Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-2 كتاب التوحيد

BAB 16

MALAIKAT MAKHLUK YANG PERKASA

BERSUJUD KEPADA ALLAH ([1]).

 

Firman Allah I :

 

] حتى إذا فزع عن قلوبهم قالوا ماذا قال ربكم قالوا الحق وهو العلي الكبير [

“Sehingga  apabila  telah  dihilangkan rasa takut  dari hati mereka (malaikat), mereka berkata : apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu ?, mereka menjawab : perkataan yang benar, dan Dialah yang maha tinggi lagi maha besar” ( QS. Saba’, 23 ).

 

Diriwayatkan dalam kitab shohehnya Imam Bukhori, dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda :

 

” إذا قضى الله الأمر في السماء ضربت الملائكة بأجنحتها خضعانا لقوله، كأنه سلسلة على صفوان ينفذهم ذلك، ] حتى إذا فزع عن قلوبهم قالوا ماذا قال ربكم قالوا الحق وهو العلي الكبير [، فيسمعها مسترق السمع، ومسترق السمع هكذا بعضه فوق بعض – وصفه سفيان بكفه، فحرفها وبدد بين أصابعه – فيسمع الكلمة فيلقيها إلى من تحته، ثم يلقيها الآخر إلى من تحته، حتى يلقيها على لسان الساحر أو الكاهن، فربما أدركه الشهاب قبل أن يلقيها، وربما ألقاها قبل أن يدركه، فيكذب معها مائة كذبة، فيقال : أليس قد قال لنا يوم كذا وكذا ؟ فيصدق بتلك الكلمة التي سمعت من السماء”.

“Apabila Allah menetapkan suatu perintah diatas langit, para malaikat mengibas ngibaskan sayapnya, karena patuh akan  firmanNya, seolah-olah firman yang didengarnya itu bagaikan gemrincing rantai besi ( yang ditarik ) di atas batu rata, hal ini memekakkan mereka ( sehingga jatuh pingsan karena ketakutan ), “sehingga apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati-hati mereka, mereka berkata : “apakah yang telah difirmankan oleh tuhanmu ?”  mereka menjawab : “ ( perkataan ) yang benar, dan Dialah yang maha tinggi lagi maha besar”, ketika itulah ( syetan syetan ) pencuri berita mendengarnya, pencuri berita itu sebagian diatas sebagian yang lain – Sufyan bin Uyainah ([2]) menggambarkan dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari jemarinya – ketika mereka ( penyadap berita) mendengar berita itu, disampaikanlah kepada yang ada dibawahnya, dan seterusnya, sampai ke tukang sihir dan tukang ramal, tapi kadang-kadang syetan pencuri berita itu terkena syihab ( meteor )  sebelum sempat menyampaikan berita itu, dan kadang-kadang sudah sempat menyampaikan berita sebelum terkena syihab, kemudian dengan satu kalimat yang didengarnya itulah tukang sihir dan tukang ramal itu melakukan seratus macam kebohongan, mereka mendatangi tukang sihir dan tukang ramal seraya berkata : bukankah ia telah memberi tahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu ( dan itu terjadi benar), sehingga ia dipercayai dengan sebab  kalimat yang didengarnya dari langit”.

 

An – Nawwas bin Sam’an t menuturkan bahwa Rasulullah r, bersabda :

 

” إذا أراد الله تعالى أن يوحي بالأمر تكلم بالوحي أخذت السموات منه رجفة، أو قال : رعدة شديدة خوفا من الله U، فإذا سمع ذلك أهل السموات صعقوا وخروا سجدا، فيكون أول من يرفع رأسه جبريل ، فيكلمه الله من وحيه بما أراد، ثم يمر جبريل على الملائكة، كلما مر بسماء سأله ملائكتها : ماذا قال ربنا يا جبريل ؟، فيقول جبريل : قال الحق وهو العلي الكبير، فيقولون كلهم مثل ما قال جبريل، فينتهى جبريل بالوحي إلى حيث أمره الله U“.

“Apabila Allah I hendak mewahyukan perintahnya, maka Dia firmankan wahyu tersebut, dan langit-langit bergetar dengan kerasnya karena takut kepada Allah I, dan ketika para malaikat  mendengar firman tersebut mereka pingsan dan bersujud, dan diantara mereka yang pertama kali bangun adalah Jibril, maka Allah sampaikan wahyu yang Ia kehendakiNya kepadanya, kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap ia melewati langit maka para penghuninya bertanya kepadanya : “apa yang telah Allah firmankan kepadamu ?”, Jibril menjawab : “Dia firmankan yang benar, dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar, dan seluruh malaikat yang ia lewati bertanya kepadanya seperti pertanyaan pertama, demikianlah sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai dengan yang telah diperintahkan oleh Allah I kepadanya.”

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat yang telah disebutkan di atas ([3]).

2-Ayat tersebut mengandung argumentasi yang memperkuat kebatilan syirik, hususnya yang berkaitan dengan orang-orang sholeh, dan ayat itu juga memutuskan akar-akar pohon syirik yang ada dalam hati seseorang.

3-Penjelasan tentang firman Allah : “mereka menjawab : “(perkataan) yang benar” dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. ([4])”

4-Menerangkan tentang sebab pertanyaan para malaikat tentang wahyu yang difirmankan Allah.

5-Jibril kemudian menjawab pertanyaan mereka dengan perkataan : “Dia firmankan yang benar …”

6-Menyebutkan bahwa malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril.

7-Jibril memberikan jawaban tersebut kepada seluruh  malaikat penghuni langit, karena mereka bertanya kepadanya.

8-Para malaikat penghuni langit jatuh pingsan ketika mendengar firman Allah.

9-Langitpun bergetar keras ketika mendengar firman Allah itu.

10-Jibril adalah malaikat yang menyampaikan wahyu itu ketujuan yang telah diperintahkan Allah kepadanya.

11-Hadits di atas menyebutkan tentang adanya syetan-syetan yang mencuri berita wahyu.

12-Cara mereka mencuri berita, sebagian mereka naik di atas sebagian yang lain.

13-Peluncuran syihab ( meteor ) untuk menembak jatuh syetan syetan pencuri berita.

14-Adakalanya syetan pencuri berita itu terkena syihab  sebelum sempat menyampaikan berita yang didengarnya, dan adakalanya sudah sempat menyampaikan berita ke telinga manusia yang menjadi abdinya sebelum terkena syihab.

15-Adakalanya ramalan tukang ramal itu benar.

16-Dengan berita yang diterimanya ia melakukan seratus macam kebohongan.

17-Kebohongannya tidak akan dipercaya kecuali karena adanya berita dari langit ( melalui syetan penyadap berita ).

18-Kecenderungan manusia untuk menerima suatu kebatilan, bagaimana mereka bisa bersandar hanya kepada satu kebenaran saja yang diucapkan oleh tukang ramal, tanpa memperhitungkan atau mempertimbangkan seratus kebohongan yang disampaikannya.

19-Satu kebenaran tersebut beredar luas dari mulut ke mulut dan diingatnya, lalu dijadikan sebagai bukti bahwa apa yang dikatakan oleh tukang ramal itu benar.

20-Menetapkan sifat sifat Allah ( seperti yang terkandung  dalam hadits di atas ), berbeda dengan faham Asy’ariyah yang mengingkarinya.

21-Penjelasan bahwa bergetarnya langit dan pingsanya para malaikat itu desebabkan karena rasa takut mereka kepada Allah I.

22-Para malaikat pun bersimpuh sujud kepada Allah.

 

 

BAB 17

S Y A F A ’ A T ([5])

 

Firman Allah I :

] وأنذر به الذين يخافون أن يحشروا إلى ربهم ليس لهم من دونه ولي ولا شفيع لعلهم يتقون [

“Dan berilah peringatan dengan apa yang telah diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dikumpulkan kepada Rabb mereka ( pada hari kiamat ), sedang mereka tidaklah mempunyai seorang pelindung dan pemberi syafaatpun selain Allah, agar mereka bertakwa” ( QS. Al an’am, 51 ).

] قل لله الشفاعة جميعا [

“Katakanlah ( hai Muhammad ) : hanya milik Allah lah syafaat itu semuanya” ( QS. Az zumar, 44 ).

 

] من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه [

“Tiada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa seizinNya” ( QS. Al baqarah, 225 ).

 

] وكم من ملك في السموات لا تغني شفاعتهم شيئا إلا من بعد أن يأذن الله لمن يشاء ويرضى [

“Dan berapa banyak malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengiizinkan ( untuk diberi syafaat ) bagi siapa saja yang dikehendaki dan diridloiNya” ( QS. An najm, 26 ).

 

] قل ادعوا الذين زعمتم من دون الله لا يملكون مثقال ذرة في السموات ولا الأرض  وما لهم فيهما من شرك وما له منهم من ظهير ولا تنفع الشفاعة عنده إلا لمن أذن له [

“Katakanlah  : “serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan ) selain Allah, mereka tak memiliki kekuasaan seberat dzarrah  ( biji atum ) pun di langit maupun di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu andil apapun dalam (penciptaan ) langit dan bumi, dan sama sekali tidak ada di antara mereka menjadi pembantu bagiNya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, kecuali bagi orang yang telah diizinkaNya memperoleh syafaat itu …” ( QS. Saba’, 22 ).

 

Abul Abbas ([6]) mengatakan : “Allah telah menyangkal segala hal yang menjadi tumpuan kaum musyrikin, selain diriNya sendiri, dengan menyatakan bahwa tidak ada seorangpun selainNya yang memiliki kekuasaan, atau bagiannya,  atau menjadi  pembantu Allah.

 

Adapun tentang syafa’at, maka telah ditegaskan oleh Allah  bahwa syafaat ini tidak berguna kecuali bagi orang yang telah diizinkan untuk memperolehnya, sebagaimana firmanNya :

 

] ولا يشفعون إلا لمن ارتضى [

“Dan mereka tidak dapat memberi syafa’at, kecuali kepada orang yang diridlai Allah” ( QS. Al Anbiya’, 28 ).

 

Syafa’at yang diperkirakan oleh orang-orang musyrik itu tidak akan ada pada hari kiamat, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Al qur’an.

Dan diberitakan oleh Nabi r : “bahwa beliau pada hari kiamat akan bersujud kepada Allah dan menghaturkan segala pepujian kepadaNya, beliau tidak langsung memberi syafaat lebih dahulu, setelah itu baru dikatakan kepada beliau : “Angkatlah kepalamu, katakanlah niscaya ucapanmu pasti akan didengar, dan mintalah niscaya permintaanmu akan dikabulkan, dan berilah syafa’at niscaya syafa’atmu akan diterima”.)  HR. Bukhori dan Muslim )

 

Abu Hurairah t bertanya kepada beliau : “siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’atmu ?”, Beliau menjawab : “yaitu orang yang mengucapkan la Ilaha Illallah dengan ihlas dari dalam hatinya” .) HR. Bukhori dan Ahmad )

 

Syafa’at yang ditetapkan ini adalah syafaat untuk Ahlul Ikhlas Wattauhid ( orang orang yang mentauhidkan Allah dengan  ikhlas karena Allah semata ) dengan seizin Allah; bukan untuk orang yang menyekutukan Allah dengan yang lainNya.

Dan pada hakikatnya, bahwa hanya Allah lah yang melimpahkan karuniaNya kepada orang-orang yang ikhlas tersebut, dengan memberikan ampunan kepada mereka, dengan sebab doanya orang yang telah diizinkan oleh Allah untuk memperoleh syafa’at, untuk memuliakan orang tersebut dan menempatkanya di tempat yang terpuji.

Jadi syafa’at yang ditiadakan oleh Al qur’an adalah yang didalamnya terdapat kemusyrikan. Untuk itu Al Qur’an telah menetapkan dalam beberapa ayatnya bahwa syafaat itu hanya ada dengan izin Allah; Dan Nabi pun sudah menjelaskan bahwa syafaat itu hanya diperuntukan untuk orang-orang yang bertauhid dan ikhlas karena Allah semata”.

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat ayat di atas ([7]).

2-Syafa’at yang dinafikan adalah syafa’at yang didalamnya terdapat unsur-unsur kemusyrikan.

3-Syafa’at yang ditetapkan adalah syafa’at untuk orang-orang yang bertauhid dengan ikhlas, dan dengan izin Allah.

4-Penjelasan tentang adanya syafa’at kubro, yaitu  : Al Maqom Al Mahmud ( kedudukan yang terpuji ).

 

5-Cara yang dilakukan oleh Rasulullah ketika hendak mendapatkan syafaat, beliau tidak langsung memberi syafaat lebih dahulu, tapi dengan bersujud kepada Allah, menghaturkan segala pepujian kepadaNya. kemudian setelah diizinkan oleh Allah barulah beliau memberi syafaat.

6-Adanya pertanyaan : “siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafa’at beliau ?”

7-Syafa’at itu tidak diberikan kepada orang yang mensekutukan Allah.

8-Penjelasan tentang hakikat syafa’at yang sebenarnya.

 

 

 

BAB 18

NABI r TIDAK DAPAT MEMBERI HIDAYAH KECUALI DENGAN KEHENDAK ALLAH ([8])

 

 

Firman Allah I :

] إنك لا تهدى من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء وهو أعلم بالمهتدين [

“Sesungguhnya kamu ( hai Muhammad ) tidak akan dapat  memberi hidayah ( petunjuk ) kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendakiNya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al qoshosh, 56 )

 

Diriwayatkan dalam shoheh Bukhori, dari Ibnul Musayyab, bahwa bapaknya berkata : “Ketika Abu Tholib akan meninggal dunia, maka datanglah Rasulullah r, dan pada saat itu Abdullah bin Abi Umayyah, dan Abu Jahal ada disisinya, lalu Rasulullah bersabda kepadanya :

 

” يا عم، قل لا إله إلا الله كلمة أحاج لك بها عند الله “

“Wahai pamanku, ucapkanlah “la ilaha illallah” kalimat yang dapat aku jadikan  bukti untukmu dihadapan Allah”.

 

Tetapi Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Jahal berkata kepada Abu Tholib : “Apakah kamu membenci agama Abdul Muthollib ?”, kemudian Rasulullah mengulangi sabdanya lagi, dan mereka berduapun mengulangi kata-katanya pula. maka ucapan terahir yang dikatakan oleh Abu Tholib adalah: bahwa ia tetap masih berada pada agamanya Abdul Mutholib, dan dia menolak untuk mengucapkan kalimat la ilah illallah, kemudian Rasulullah bersabda : “sungguh akan aku mintakan ampun untukmu pada Allah, selama aku tidak dilarang”, lalu Allah menurunkan firmanNya :

 

] ما كان للنبي والذين آمنوا أن يستغفروا للمشركين [

“Tidak layak bagi seorang Nabi serta orang-orang yang beriman memintakan ampunan ( kepada Allah ) bagi orang-orang musyrik” (QS. Al bara’ah, 113 ).

 

Dan berkaitan dengan Abu Tholib, Allah menurunkan firmanNya :

 

] إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء [

“Sesungguhnya kamu ( hai Muhammad ) tak sanggup memberikan hidayah) petunjuk) kepada orang-orang yang kamu cintai, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya” ( QS. Al Qoshosh, 57 )

 

 

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat 57 surat Al Qoshosh ([9]).

2-Penjelasan tentang ayat 113 surat Al Bara’ah ([10]).

3-Masalah yang sangat penting, yaitu penjelasan tentang sabda Nabi r : “Ucapkanlah kalimat la ilaha illallah”, berbeda dengan apa yang difahami oleh orang-orang yang mengaku dirinya berilmu ([11]).

4-Abu Jahal dan kawan-kawannya mengerti maksud Rasulullah ketika beliau masuk dan berkata kepada pamannya : “ucapkanlah kalimat la ilah illallah”, oleh karena itu, celakalah orang yang pemahamannya tentang asas utama Islam ini lebih rendah dari pada Abu Jahal.

5-Kesungguhan Rasulullah r dalam berupaya untuk mengislamkan pamannya.

6-Bantahan terhadap orang-orang yang mengatakan bahwa Abdul Mutholib dan leluhurnya itu beragama Islam.

7-Permintaan ampun Rasulullah untuk Abu Tholib tidak di kabulkan, ia tidak diampuni, bahkan beliau dilarang memintakan ampun untuknya.

8-Bahayanya Berkawan dengan orang-orang berpikiran dan berprilaku jahat.

9-Bahayanya mengagung-agungkan para leluhur dan orang-orang terkemuka.

10-“Nama besar” mereka inilah yang dijadikan oleh orang orang jahiliyah sebagai tolok ukur kebenaran yang mesti dianut.

11-Hadits di atas mengandung bukti bahwa amal seseorang itu yang dianggap adalah di akhir hidupnya; sebab jika Abu Tholib mau mengucapkan kalimat tauhid, maka pasti akan berguna bagi dirinya di hadapan Allah.

12-Perlu direnungkan, betapa beratnya hati orang-orang yang sesat itu untuk menerima tauhid, karena dianggap sebagai sesuatu yang tak bisa diterima oleh akal pikiran mereka; sebab dalam kisah di atas disebutkan bahwa mereka tidak menyerang Abu Tholib kecuali supaya menolak untuk mengucapkan  kalimat tauhid, padahal Nabi r sudah berusaha semaksimal mungkin, dan berulang kali memintanya untuk mengucapkannya. Dan karena kalimat tauhid itu memiliki makna yang jelas dan konsekwensi yang besar, maka cukupah bagi mereka dengan menolak untuk mengucapkannya.

 

 

 

BAB 19

PENYEBAB UTAMA KEKAFIRAN

ADALAH BERLEBIH-LEBIHAN DALAM MENGAGUNGKAN ORANG-ORANG SHOLEH

Firman Allah I :

] يا أهل الكتاب لا تغلوا في دينكم ولا تقولوا على الله إلا الحق [

“Wahai orang-orang ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” ( QS. An nisa’, 171 ).

 

Dalam shoheh Bukhori ada satu riwayat dari Ibnu Abbas t yang menjelaskan tentang firman Allah I :

 

] وقالوا لا تذرن آلهتكم ولا تذرن ودا ولا سواعا ولا يغوث ويعوق ونسرا [

“Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata : janganlah sekali kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-tuhan kamu, dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan ) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr”( QS. Nuh, 23 )

 

Beliau ( Ibnu Abbas ) mengatakan : “Ini adalah nama orang-orang sholeh dari kaum Nabi Nuh, ketika mereka meniggal dunia, syetan membisikan kepada kaum mereka agar membikin patung-patung mereka yang telah meninggal di tempat-tempat dimana disitu pernah diadakan pertemuan pertemuan mereka, dan mereka disuruh memberikan nama nama patung tersebut dengan nama-nama mereka, kemudian orang orang tersebut menerima bisikan syetan, dan saat itu patung-patung yang mereka buat belum dijadikan sesembahan, baru setelah para pembuat patung itu meninggal, dan ilmu agama dilupakan, mulai saat itulah patung-patung  tersebut mulai disembah”.

Ibnul Qoyyim berkata ([12]): “banyak para ulama salaf mengatakan : “setelah mereka itu meninggal, banyak orang-orang yang berbondong bondong mendatangi kuburan mereka, lalu mereka membikin patung patung mereka, kemudian setelah waktu berjalan beberapa lama ahirnya patung patung tersebut dijadikan sesembahan”.

 

Diriwayatkan dari Umar t bahwa Rasulullah r bersabda :

” لا تطروني كما أطرت النصارى عيسى بن مريم، إنما أنا عبد، فقولوا عبد الله ورسوله”

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih lebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : Abdullah ( hamba Allah ) dan Rasulullah ( Utusan Allah )” ( HR. Bukhori dan Muslim ).

Dan Rasulullah r bersabda :

 

” إياكم والغلو، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو”

“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian”( HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu majah dari Ibnu Abbas t )

 

Dan dalam shoheh Muslim, Ibnu Mas’ud t berkata : bahwa Rasulullah r bersabda :

” هلك المتنطعون ” قالها ثلاثا.

“Binasalah orang-orang yang bersikap berlebih-lebihan” (diulanginya ucapan itu tiga kali).

 

Kandungan dalam bab ini :

1-Orang yang memahami bab ini dan kedua bab setelahnya, akan jelas baginya keterasingan Islam; dan ia akan melihat betapa kuasanya Allah itu untuk merubah hati manusia.

2-Mengetahui bahwa awal munculnya kemusyrikan di muka bumi ini adalah karena sikap berlebih-lebihan terhadap orang-orang sholeh.

3-Mengetahui apa yang pertama kali diperbuat oleh orang-orang sehingga ajaran para Nabi menjadi berubah, dan apa faktor penyebabnya ?, padahal mereka mengetahui bahwa para Nabi itu adalah utusan Allah.

4-Mengetahui sebab-sebab diterimanya bid’ah, padahal syari’ah dan fitrah manusia menolaknya.

5-Faktor yang menyebabkan terjadinya hal diatas adalah tercampur aduknya kebenaran dengan kebatilan ;

Adapun yang pertama ialah : rasa cinta kepada orang-orang sholeh.

Sedang yang kedua ialah : tindakan yang dilakukan oleh orang orang ‘alim yang ahli dalam masalah agama, dengan maksud untuk suatu kebaikan, tetapi orang-orang yang hidup sesudah mereka menduga bahwa apa yang mereka maksudkan bukanlah hal itu.

6-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Nuh ([13]).

7-Mengetahui watak manusia bahwa kebenaran yang ada pada dirinya bisa berkurang, dan kebatilan malah bisa bertambah.

8-Bab ini mengandung suatu bukti tentang kebenaran pernyataan ulama salaf bahwa bid’ah adalah penyebab kekafiran.

9-Syetan mengetahui tentang dampak yang diakibatkan oleh  bid’ah, walaupun maksud pelakunya baik.

10-Mengetahui kaidah umum, yaitu bahwa sikap berlebih lebihan dalam agama itu dilarang, dan mengetahui pula dampak negatifnya.

11- Bahaya dari perbuatan sering mendatangi kuburan dengan niat untuk suatu amal shalih.

12-larangan adanya patung-patung, dan hikmah dibalik perintah menghancurkannya ( yaitu : untuk menjaga kemurnian tauhid dan mengikis kemusyrikan ).

13-Besarnya kedudukan kisah kaum nabi Nuh ini, dan manusia sangat memerlukan akan hal ini, walaupun banyak diantara mereka yang telah melupakannya.

14-Satu hal yang sangat mengherankan, bahwa mereka ( para ahli bid’ah ) telah membaca dan memahami kisah ini,  baik lewat kitab-kitab tafsir maupun hadits, tapi Allah menutup hati mereka, sehingga mereka mempunyai keyakinan bahwa apa yang dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh adalah amal ibadah yang paling utama, dan merekapun beranggapan bahwa apa yang dilarang oleh Allah dan Rasulnya adalah kekafiran  yang menghalalkan darah dan harta.

15-Dinyatakan bahwa mereka berlebih-lebihan terhadap orang- orang sholeh itu tiada lain karena mengharapkan syafaat mereka.

16Mereka menduga bahwa orang-orang berilmu yang membikin patung itu bermaksud demikian.

17-Pernyataan yang sangat penting yang termuat  dalam sabda Nabi : “Janganlah kalian memujiku dengan berlebih lebihan, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji Isa bin Maryam”. Semoga sholawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada beliau yang telah menyampaikan risalah dengan sebenar benarnya.

18-Ketulusan hati beliau kepada kita dengan memberikan nasehat bahwa orang-orang yang berlebih-lebihan itu akan binasa.

19-Pernyataan bahwa patung-patung itu tidak disembah kecuali setelah ilmu [agama] dilupakan, dengan demikian dapat diketahui nilai keberadaan ilmu ini dan bahayanya jika hilang.

19-Penyebab hilangnya ilmu agama adalah meninggalnya para ulama.

 

 

BAB 20

LARANGAN BERIBADAH KEPADA ALLAH

DISISI KUBURAN ORANG-ORANG SHOLEH,

 

Diriwayatkan dalam  shoheh [Bukhori dan Muslim], dari Aisyah ra. bahwa Ummu Salamah ra. bercerita kepada Rasulullah r tentang gereja yang ia lihat di negeri Habasyah ( Ethiopia ), yang didalamnya terdapat rupaka-rupaka (gambar-gambar),  maka Rasulullah bersabda :

 

” أولئك إذا مات فيهم الرجل الصالح، أو العبد الصالح بنوا على قبره مسجدا، وصوروا فيه تلك الصور، أولئك شرار الخلق عند الله “.

”Mereka itu, apabila ada orang yang sholeh atau hamba yang sholeh meninggal, mereka membangun diatas kuburannya sebuah tempat ibadah, dan mereka membuat di dalamnya rupaka-rupaka, dan mereka sejelek-jelek makhluk  disisi Allah”.

 

Mereka dihukumi beliau sebagai sejelek-jelek makhluk karena mereka melakukan dua fitnah sekaligus; yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah diatasnya dan fitnah membuat rupaka rupaka           ( patung-patung ).

 

Dalam riwayat Imam Bukhori dan Muslim, Aisyah juga berkata : ketika Rasulullah akan diambil nyawanya, beliaupun segera menutup mukanya dengan kain, dan ketika nafasnya terasa sesak maka dibukanya kembali kain itu. Ketika beliau dalam  keadaan demikian itulah beliau bersabda :

 

” لعنة الله على اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد “

“Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yahudi dan Nasrani, yang telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai  tempat peribadatan”.

 

Beliau mengingatkan umatnya agar menjauhi perbuatan mereka, dan jika bukan karena hal itu, Maka pasti kuburan beliau akan ditampakkan, hanya saja beliau hawatir kalau kuburannya nanti dijadikan tempat beribadah.

 

Imam Muslim meriwayatkan dari Jundub bin Abdullah, dimana ia pernah berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah r bersabda lima hari sebelum beliau meninggal dunia :

 

” إني أبرأ إلى الله أن يكون لي منكم خليلا، فإن الله قد اتخذني خليلا كما اتخذ إبراهيم خليلا، ولو كنت متخذا من أمتي خليلا لاتخذت أبا بكر خليلا، ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم مساجد، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد فإني أنهاكم عن ذلك”

“Sungguh, Aku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil ( kekasih mulia ) dari antara kalian, karena sesungguhnya Allah I telah menjadikan aku sebagai kekasihNya, sebagaimana Ia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya; seandainya aku menjadikan seorang kekasih dari umatku, maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat  sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah,  dan ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku  benar-benar melarang kalian  dari perbuatan itu”.

Rasulullah r di akhir hayatnya – sebagaimana dalam hadits Jundub – telah melarang umatnya untuk tidak menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian ketika dalam keadaan hendak diambil nyawanya – sebagaimana dalam hadits Aisyah – beliau melaknat orang yang malakukan perbuatan itu.  dan sholat di sisinya termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, walaupun tidak dijadikan bangunan masjid; dan inilah maksud dari kata-kata Aisyah ra.:“…  dihawatirkan  akan  dijadikan sebagai tempat ibadah.”

Dan para sahabat pun belum  pernah membangun masjid (tempat ibadah) disekitar kuburan beliau, karena setiap tempat yang digunakan untuk sholat berarti telah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk sholat disebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh  Rasul r :

” جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا “.

“Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan suci”.

 

Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dengan sanad yang jayyid, dari Ibnu Mas’ud  t, bahwa Nabi Muhammad r bersabda :

 

” إن من شرار الناس من تدركهم الساعة وهم أحياء، والذين يتخذون القبور مساجد”.

“Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang masih hidup saat hari kiamat tiba, dan orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah (masjid)” ( HR. Abu Hatim dalam  kitab shohehnya ).

 

Kandungan bab ini :

1-Larangan membangun tempat beribadah (masjid) di sisi kuburan orang-orang yang sholeh, walupun niatnya baik.

2-Larangan  keras adanya rupaka-rupaka (gambar / patung)  dalam tempat ibadah .

3-Pelajaran penting yang dapat kita ambil dari sikap keras Rasulullah r dalam masalah ini, bagaimana beliau menjelaskan terlebih dahulu kepada para sahabat, bahwa orang yang membangun tempat ibadah di sekitar kuburan orang sholeh termasuk sejelek-jelek makhluk di hadapan Allah; kemudian, lima hari sebelum wafat, beliau mengeluarkan pernyataan yang melarang umatnya menjadikan kuburan kuburan sebagai tempat ibadah; terakhir, beberapa saat menjelang wafatnya, beliau masih merasa belum cukup dengan tindakan tindakan yang telah diambilnya, sehingga beliau melaknat orang-orang yang melakukan perbuatan ini.

4-Rasulullah r melarang pula perbuatan tersebut dilakukan di sisi kuburan beliau, walaupun kuburan beliau sendiri belum ada.

5-Menjadikan kuburan nabi-nabi sebagai tempat ibadah merupakan tradisi orang-orang yahudi dan Nasrani.

6-Rasulullah melaknat mereka karena perbuatan mereka sendiri.

7-Rasulullah melaknat mereka dengan tujuan memberikan peringatan kepada kita agar tidak berbuat hal yang sama terhadap kuburan beliau.

8-Alasan tidak ditampakkannya kuburan beliau karena  kehawatiran akan dijadikan  sebagai tempat ibadah.

9-Pengertian “menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah”  ialah [melakukan suatu ibadah, seperti : shalat di sisi kuburan, meskipun tidak dibangun di atasnya sebuah tempat ibadah ].

10-Rasulullah menggabungkan antara orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah dengan orang yang masih hidup disaat kiamat tiba, dalam rangka memberikan peringatan pada umatnya tentang perbuatan yang menghantarkan kepada kemusyrikan sebelum terjadi, disamping mengingatkan pula bahwa akhir kehidupan dunia adalah merajalelanya kemusyrikan.

11-Khutbah beliau yang disampaikan lima hari sebelum wafatnya mengandung sanggahan terhadap dua kelompok yang kedua duanya termasuk sejelek-jelek ahli bid’ah, bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa keduanya di luar  72 golongan yang ada dalam umat Islam, yaitu Rafidloh ([14]) dan Jahmiyah([15]). Dan sebab orang-orang Rafidloh inilah kemusyrikan dan penyembahan kuburan terjadi, dan mereka itulah orang pertama yang membangun tempat ibadah diatas kuburan.

12-Rasulullah r [adalah manusia biasa] merasakan beratnya  sakaratul maut.

13-Beliau dimuliakan oleh Allah dengan dijadikan sebagai kekasih      ( kholil ) [ sebagaimana Nabi Ibrahim ].

14-Pernyataan bahwa kholil itu lebih tinggi derajatnya dari pada habib ( kekasih ).

15-Pernyataan bahwa Abu Bakar t adalah sahabat Nabi yang paling mulia.

16-Hal tersebut merupakan isyarat bahwa Abu Bakar akan menjadi Kholifah ( sesudah beliau ).

 

 

 

BAB 21

BERLEBIH-LEBIHAN TERHADAP KUBURAN ORANG-ORANG SHOLEH MENJADI PENYEBAB DIJADIKANNYA SESEMBAHAN SELAIN ALLAH

 

Imam Malik meriwayatkan dalam kitabnya Al Muwatto’, bahwa  Rasulullah r bersabda :

” اللهم لا تجعل قبري وثنا يعبد، اشتد غضب الله على قوم اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد”

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah. Allah sangat murka kepada orang-orang yang telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah”.

 

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dengan sanadnya dari sufyan dari Mansur dari Mujahid, berkaitan dengan ayat : [ أفرأيتم اللات والعزى   ] “Jelaskan kepadaku ( wahai kaum musyrikin)  tentang ( berhala yang kamu anggap sebagai anak perempuan Allah ) Al lata dan Al Uzza” ( QS. An Najm, 19 )

Ia  ( Mujahid ) berkata : “Al latta adalah orang yang dahulunya tukang mengaduk tepung ( dengan air atau minyak) untuk dihidangkan kepada jamaah haji. setelah meninggal, merekapun senantiasa mendatangi kuburannya.”

Demikian pula  penafsiran Ibnu Abbas t sebagaimana yang dituturkan oleh Ibnul Jauza’ : “ Dia itu pada mulanya adalah tukang mengaduk tepung untuk para jamaah haji.”

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas t , ia berkata :

 

” لعن رسول الله زائرات القبور والمتخذين عليها المساجد والسرج” رواه أهل السنن.

“Rasulullah r melaknat kaum wanita yang menziarahi kuburan, serta orang-orang yang membuat tempat ibadah dan memberi  lampu penerang di atas kuburannya.”( HR. para penulis kitab Sunan )

 

Kandungan dalam bab ini :

1-Penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan berhala ([16]).

2-Penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan ibadah ([17]).

 

 

3-Rasulullah r dengan doanya itu, tiada lain hanyalah memohon kepada Allah supaya dihindarkan dari sesuatu yang dikhawatirkan terjadi [ pada umatnya, sebagaimana yang telah terjadi pada umat-umat sebelumnya, yaitu : sikap berlebih lebihan terhadap kuburan beliau, yang akhirnya kuburan beliau akan menjadi berhala yang disembah.

4-Dalam doanya, beliau sertakan pula apa yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu dengan menjadikan kuburan para Nabinya sebagai tempat beribadah.

5-Penjelasan bahwa Allah sangat murka [ terhadap orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah ].

6-Di antara masalah yang sangat penting untuk dijelaskan dalam bab ini adalah mengetahui sejarah penyembahan Al latta berhala terbesar orang-orang jahiliyah.

7-Mengetahui bahwa berhala itu asal usulnya adalah kuburan orang sholeh [yang diperlakukan secara berlebihan dengan senantiasa dikunjungi oleh mereka ].

8-Al latta nama orang yang dikuburkan itu, pada mulanya adalah seorang  pengaduk tepung untuk disajikan kepada para jamaah haji.

9-Rasulullah r melaknat para wanita penziarah kubur.

10-Beliau juga melaknat orang-orang yang memberikan lampu penerang di atas kuburan.

 

BAB 22

UPAYA RASULULLAH DALAM MENJAGA TAUHID

DAN MENUTUP JALAN YANG MENUJU KEPADA KEMUSYRIKAN

 

Firman Allah I :

] لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم [

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sediri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan ) untukmu, amat belas kasihan lagi penyayang kepada orang orang mu’min.” ( QS. At Taubah, 128 ).

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah t  bahwa Rasulullah r bersabda :

 

” لا تجعلوا بيوتكم قبورا، ولا تجعلوا قبري عيدا، وصلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم” رواه أبو داود بإسناد حسن ورواته ثقات.

“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, ucapkanlah sholawat untukku, karena sesungguhnya ucapan sholawat kalian akan sampai kepadaku dimana saja kalian berada” ( HR. Abu Daud dengan sanad yang baik, dan para perowinya tsiqoh ).

 

Dalam hadits yang lain, Ali bin Al Husain t menuturkan, bahwa ia melihat seseorang masuk kedalam celah-celah yang ada pada kuburan Rasulullah r, kemudian berdo’a, maka ia pun melarangnya seraya berkata kepadanya : “Maukah kamu aku beritahu sebuah hadits yang aku dengar dari bapakku dari kakekku dari Rasulullah r , beliau bersabda:

 

” لا تتخذوا قبري عيدا، ولا بيوتكم قبورا، وصلوا علي فإن تسليمكم يبلغني حيث كنتم”

“Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, dan ucapkanlah doa salam untukku, karena doa salam kalian akan sampai kepadaku dari mana saja kalian berada”( diriwayatkan dalam kitab Al Mukhtarah ).

 

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Baro’ah ([18]).

2-Rasulullah r telah memperingatkan umatnya dan berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menjauhkan umatnya dari jalan yang menuju kepada kemusyrikan, serta menutup setiap jalan yang menjurus kepadanya.

3-Rasulullah r sangat menginginkan keimanan dan keselamatan kita, dan amat  belas kasihan lagi penyayang kepada kita.

4-Larangan Rasulullah r untuk tidak menziarahi kuburannya dengan cara tertentu, [yaitu dengan menjadikannya sebagai tempat perayaan], padahal menziarahi kuburan beliau termasuk amalan yang amat baik.

5-Rasulullah r  melarang seseorang banyak melakukan ziarah kubur.

6-Rasulullah r menganjurkan untuk melakukan sholat sunnah di dalam rumah.

7-Satu hal yang sudah menjadi ketetapan dikalangan kaum salaf, bahwa menyampaikan sholawat untuk Nabi tidak perlu masuk di dalam kuburannya.

8-Alasannya karena sholawat dan salam seseorang untuk beliau akan sampai kepada Beliau dimanapun ia berada, maka tidak perlu harus mendekat, sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang.

9-Nabi r di alam barzakh, akan ditampakkan seluruh amalan umatnya yang berupa sholawat dan salam untuknya.

 

 

 

BAB 23

PENJELASAN BAHWA SEBAGIAN UMAT INI

ADA YANG MENYEMBAH BERHALA

 

Firman Allah I :

] ألم تر إلى الذين أوتوا نصيبا من الكتاب يؤمنون بالجبت والطاغوت ويقولون للذين كفروا هؤلاء أهدى من الذين آمنوا سبيلا [

“Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al kitab ?, mereka beriman kepada Jibt dan Thoghut ([19]), dan mengatakan kepada orang-orang kafir ( musyrik Mekkah ), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (QS. An nisa’, 51 ).

 

] قل هل أنبئكم بشر من ذلك مثوبة عند الله، من لعنه الله وغضب عليه، وجعل منهم القردة والخنازير وعبد الطاغوت [.

“Katakanlah :” maukah aku beritakan kepadamu tentang orang orang yang lebih buruk pembalasannya dari pada ( orang-orang fasik ) itu dihadapan  Allah, yaitu orang-orang yang dilaknati dan dimurkai, dan diantara mereka ada yang dijadikan kera dan babi, dan orang-orang yang menyembah Thoghut” ( QS. Al maidah, 60 ).

 

] قال الذين غلبوا على أمرهم لنتخذن عليهم مسجدا [

“…Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “sungguh kami akan  mendirikan  sebuah  rumah  peribadatan  di atas  gua  mereka”.” ( QS. Al kahfi, 21 ).

 

Dari Abu Said t,  Rasulullah r bersabda :

” لتتبعن سنن من كان قبلكم حذو القذة بالقذة، حتى لو دخلوا جحر ضب لدخلتموه”، قالوا : يا رسول الله، اليهود والنصارى ؟ قال :” فمن ؟ ” أخرجه البخاري ومسلم.

“Sungguh kalian akan mengikuti ( meniru ) tradisi umat-umat  sebelum kalian selangkah demi selangkah sampai kalaupun mereka masuk kedalam liang biawak niscaya kalian akan masuk ke dalamnya pula.”, para sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, orang orang yahudi dan Nasranikah ?”, beliau r menjawab : “siapa lagi ?” ( HR. Buhkhori dan Muslim ).

 

Imam Muslim meriwayatkan dari Tsauban t, bahwa Rasulullah r bersabda :

” إن الله زوى لي الأرض، فرأيت مشارقها ومغاربها، وإن أمتي سيبلغ ملكها ما زوي لي منها، وأعطيت كنـزين : الأحمر والأبيض، وإني سألت ربي لأمتي أن لا يهلكها بسنة بعامة، وأن لا يسلط عليهم عدوا من سوى أنفسهم فيستبيح بيضتهم، وإن ربي قال : يا محمد إني إذا قضيت  قضاء فإنه لا يرد، وإني أعطيتك لأمتك أن لا أهلكهم بسنة بعامة، وأن لا أسلط عليهم عدوا من سوى أنفسهم فيستبيح بيضتهم، ولو اجتمع عليهم من بأقطارها، حتى يكون بعضهم يهلك  بعضا، ويسبي بعضهم بعضا”.

“Sungguh Allah telah membentangkan bumi kepadaku, sehingga aku dapat melihat belahan timur dan barat, dan sungguh kekuasaan umatku akan sampai pada belahan bumi yang telah dibentangkan kepadaku itu, dan aku diberi dua simpanan yang berharga ; merah dan putih (imperium Persia dan Romawi ), dan aku minta kepada Rabbku untuk umatku agar jangan dibinasakan dengan sebab kelaparan ( paceklik ) yang berkepanjangan, dan jangan dikuasakan kepada  musuh selain dari kaum mereka sendiri, sehingga musuh itu nantinya akan merampas seluruh negeri mereka.

Lalu Rabb berfirman : “Hai Muhammad, jika aku telah menetapkan suatu perkara, maka ketetapan itu tak akan bisa berubah, dan sesungguhnya Aku telah memberikan kepadamu untuk umatmu untuk tidak dibinasakan dengan sebab paceklik yang berkepanjangan, dan tidak akan dikuasai oleh musuh selain dari kaum mereka sendiri, maka musuh itu tidak akan bisa merampas seluruh negeri mereka, meskipun manusia yang ada di jagat raya ini berkumpul menghadapi mereka, sampai umatmu itu sendiri sebagian menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian meraka menawan sebagian yang lain.”

 

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Al barqoni dalam sholehnya dengan tambahan :

” وإني أخاف على أمتى الأئمة المضلين، وإذا وقع عليهم السيف لم يرفع إلى يوم القيامة، ولا تقوم الساعة حتى يلحق حي من أمتى بالمشركين، وحتى تعبد فئام من أمتى الأوثان، وإنه سيكون في أمتى كذابون ثلاثون، كلهم يزعم أنه نبي، وأنا خاتم النبيين، لا نبي بعدي، ولا تزال طائفة من أمتى على الحق منصورة، لا يضرهم من خذلهم ولا من خالفهم، حتى يأتي أمر الله تبارك وتعالى “.

“Dan yang aku khawatirkan terhadap umatku tiada lain adalah adanya pemimpin yang menyesatkan, dan ketika terjadi pertumpahan darah diantara mereka, maka tidak akan berahir sampai datangnya hari kiamat, dan hari kiamat tidak akan kunjung tiba kecuali ada diantara umatku yang mengikuti orang musyrik, dan sebagian lain yang menyembah berhala, dan sungguh akan ada pada umatku 30 orang pendusta, yang mengaku sebagai Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi lain setelah aku, meskipun demikian akan tetap ada segolongan dari umatku yang tetap tegak membela kebenaran, dan mereka selalu mendapat pertolongan Allah taala, mereka tak tergoyahkan oleh orang-orang yang menelantarkan mereka dan memusuhi mereka, sampai datang keputusan Allah I”.

 

Kandungan  dalam bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’([20]).

2-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Maidah ([21]).

3-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Kahfi ([22]).

4-Masalah yang sangat penting sekali, yaitu pengertian tentang beriman terhadap Jibt dan thoghut, apakah sekedar  mempercayainya dalam hati, atau mengikuti orang-orangnya, sekalipun membenci barang barang tersebut dan mengerti akan kebatilannya ?.

5-[sebagai buktinya], apa yang dikatakan oleh Ahli kitab kepada orang-orang kafir (kaum Musyrikin Makkah) bahwa mereka lebih benar jalannya dari pada orang-orang yang beriman.

6-Iman kepada Jibt dan Thaghut pasti akan terjadi di kalangan umat ini (umat Islam), sebagaimana yang ditetapkan dalam hadits Abu Said. Dan inilah yang dimaksud dalam bab ini.

6-Pernyataan Rasulullah r bahwa akan terjadi penyembahan berhala dari kalangan umat ini.

7-Satu hal yang amat mengherankan adalah menculnya orang yang mendakwahkan dirinya sebagai Nabi, seperti Al Mukhtar bin Abu Ubaid Ats tsaqafi ([23]); padahal ia mengucapkan dua kalimah syahadat, dan menyatakan bahwa dirinya termasuk dalam umat Muhammad, dan ia meyakini bahwa Rasulullah itu haq dan Al Qur’an juga haq, yang didalamnya diterangkan bahwa Muhammad adalah penutup para Nabi. Walaupun demikian ia dipercayai banyak orang, meskipun adanya kontradiksi yang jelas sekali. Ia hidup pada akhir masa sahabat dan diikuti oleh banyak orang.

8-Rasulullah r menyampaikan kabar gembira bahwa al haq (kebenaran Allah dan ajaranNya) tidak akan dapat dilenyapkan sama sekali, sebagaimana yang terjadi pada masa lalu, tetapi masih akan selalu ada sekelompok orang yang berpegang teguh dan membela kebenaran.

9-Bukti kongkritnya adalah : mereka walaupun sedikit jumlahnya, tetapi tidak tergoyahkan oleh orang-orang yang menelantarkan dan menentang mereka.

10-Kondisi seperti ini akan berlangsung sampai hari kiamat.

11-Bukti bukti akan kenabian Muhammad r yang terkandung dalam hadits ini adalah :

-Pemberitahuan beliau bahwa Allah telah membentangkan kepadanya belahan bumi sebelah barat dan timur, dan menjelaskan makna dari hal itu; kemudian terjadi seperti yang beliau beritakan, berlainan halnya dengan belahan selatan dan utara.

-Pemberitahuan beliau bahwa beliau diberi dua simpanan yang berharga.

-Pemberitahuan beliau bahwa do’anya untuk umatnya dikabulkan dalam dua hal, sedangkan hal yang ketiga tidak dikabulkan.

-Pemberitahuan beliau bahwa akan terjadi pertumpahan darah diantara umatnya, dan kalau sudah terjadi tidak akan berakhir sampai hari kiamat.

-Pemberitahuan beliau bahwa sebagian umat ini akan menghancurkan sebagian yang lain, dan sebagian mereka menawan sebagian yang lain.

-Pemberitahuan beliau tentang munculnya orang-orang yang mendakwahkan dirinya sebagai Nabi pada umat ini.

-Pemberitahuan beliau bahwa akan akan tetap ada sekelompok orang dari umat ini yang tegak membela kebenaran, dan mendapat pertolongan Allah.

Dan itu semua benar benar telah terjadi seperti yang telah diberitahukan, padahal  semua yang diberitahukan itu diluar  jangkauan akal manusia.

12-Apa yang beliau khawatirkan terhadap umatnya hanyalah  munculnya para pemimpin yang menyesatkan.

13-Perlunya perhatian terhadap makna dari penyembahan berhala.

 

 

 

BAB 24

HUKUM S I H I R

 

 

Firman Allah I :

] ولقد علموا لمن اشتراه ما له في الآخرة من خلاق [

“Demi Allah, sesungguhnya orang-orang Yahudi itu telah meyakini bahwa barang siapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, maka tidak akan mendapatkan bagian (keuntungan) di akherat” ( QS. Al Baqarah, 102 ).

 

] يؤمنون بالجبت والطاغوت [

“Dan mereka beriman kepada Jibt dan Thoghut” ( QS. An nisa’, 51 ).

 

Menurut penafsiran Umar bin Khothob t : Jibt adalah sihir, sedangkan Thoghut adalah syetan.

Sedangkan Jabir t berkata : Thoghut adalah para tukang ramal  yang didatangi syetan;  yang ada pada setiap kabilah.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah t bahwa  Rasulullah r bersabda :

 

” اجتنبوا السبع الموبقات، قالوا : يا رسول الله وما هن، قال : الشرك بالله، والسحر، وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق، وأكل الربا، وأكل مال اليتيم، والتولي يوم الزحف، وقذف المحصنات الغافلات المؤمنات”.

“Jauhilah tujuh perkara yang membawa kehancuran !, para sahabat bertanya : “Apakah ketujuh perkara itu ya Rasulullah ?”, beliau menjawab :” yaitu syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan sebab yang dibenarkan oleh agama, makan riba, makan harta anak yatim, membelot dari peperangan, menuduh zina terhadap wanita yang terjaga dirinya dari perbuatan dosa dan tidak memikirkan untuk melakukan dosa, dan beriman kepada Allah” (HR. Bukhori dan Muslim )

 

Diriwayatkan dari Jundub bahwa Rasulullah r bersabda dalam hadits marfu’ :

 

” حد الساحر ضربة بالسيف ” رواه الترمذي،  وقال : الصحيح أنه موقوف.

“Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal lehernya dengan pedang” ( HR. Imam Turmudzi, dan ia berkata : pendapat yang benar ini perkataan sahabat ).

Dalam shoheh Bukhori, dari Bajalah bin Abdah, ia berkata : “Umar bin Khothob telah mewajibkan untuk membunuh setiap tukang sihir, baik laki-laki maupun perempuan, maka kami telah membunuh tiga tukang sihir.”

Dan dalam shoheh Bukhori juga, Hafsah, ra. telah memerintahkan untuk membunuh budak perempuannya yang telah menyihirnya, maka dibunuhlah ia, dan begitu juga riwayat yang shoheh dari Jundub.

Imam Ahmad berkata : “diriwayatkan dalam hadits shoheh, bahwa hukuman mati terhadap  tukang sirhir ini telah dilakukan oleh tiga orang sahabat Nabi ( Umar, Hafsah dan Jundub ).

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al Baqarah ([24]).

2-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’([25]).

3-Penjelasan tentang makna Jibt dan Thoghut, serta perbedaan antara keduanya.

4-Thoghut itu kadang kadang dari jenis Jin, dan kadang kadang dari jenis manusia.

5-Mengetahui tujuh perkara yang bisa menyebabkan kehancuran, yang dilarang secara husus oleh Nabi.

6-Tukang sihir itu kafir.

7-Tukang sihir itu dihukum mati tanpa diminta taubat lebih dahulu.

8-Jika praktek sihir itu telah ada dikalangan kaum muslimin pada masa Umar,  bisa dibayangkan bagaimana pada masa sesudahnya ?.

 

BAB 25

MACAM MACAM SIHIR

 

Imam Ahmad meriwayatkan : telah diceritakan kepada kami oleh Muhammad bin Ja’far dari Auf dari Hayyan bin ‘Ala’ dari Qathan bin Qubaishah dari bapaknya, bahwa ia telah mendengar Rasulullah r bersabda :

 

” إن العيافة والطرق والطيرة من الجبت “

“ Iyafah, Tharq dan  Thiyarah adalah termasuk Jibt”

Auf menafsiri hadits ini dengan mengatakan :

Iyafah  adalah meramal nasib orang dengan menerbangkan burung.

Tharq adalah meramal nasib orang dengan membuat garis di atas tanah.

Jibt adalah sebagaimana yang telah dikatakan oleh Hasan : suara syetan. (hadits tersebut sanadnya jayyid ). Dan diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, An Nasa’i, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dengan hanya menyebutkan lafadh hadits dari Qabishah, tanpa menyebutkan tafsirannya.

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas t bahwa Rasulullah r bersabda :

 

” من اقتبس شعبة من النجوم فقد اقتبس شعبة من السحر، زاد ما زاد” رواه أبو داود وإسناده صحيح.

“Barang siapa yang mempelajari sebagian dari ilmu nujum ( per bintangan ) sesungguhnya dia telah mempelajari sebagian ilmu sihir. semakin bertambah (ia mempelajari ilmu nujum) semakin bertambah pula (dosanya)” ( HR. Abu Daud dengan sanad yang shahih ).

 

AnNasai meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda :

” من عقـد عقـدة ثم نفث فيها فقـد سحر، ومن سحر فقـد أشرك، ومن تعـلق شيئا وكل إليـه”

“Barang siapa yang membuat suatu buhulan, kemudian meniupnya (sebagaimana yang dilakukan oleh tukang sihir) maka ia telah melakukan sihir, dan barang siapa yang melakukan sihir maka ia telah melakukan kemusyrikan, dan barang siapa yang menggantungkan diri pada sesuatu benda (jimat), maka ia dijadikan Allah bersandar kepada benda itu”.

 

Dari Ibnu Mas’ud t bahwa Rasulullah r bersabda :

” ألا هل أنبئكم ما العضه ؟ هي النميمة القالة بين الناس ” رواه مسلم.

“Maukah kamu aku beritahu apakah  Adh-h itu ?, ia adalah perbuatan mengadu domba, yaitu banyak membicarakan keburukan dan menghasut  di antara manusia” ( HR. Muslim ).

 

Dan ibnu Umar t menuturkan, bahwa Rasulullah r bersabda :

” إن من البيان لسحرا “

“Sesungguhnya di antara susunan kata yang indah itu terdapat kekuatan sihir.”(HR. Bukhori dan Muslim )

 

Kandungan bab ini :

1-Diantara macam sihir (Jibt) adalah iyafah, thorq dan thiyarah.

2-Penjelasan tentang makna iyafah, thorq dan thiyarah.

3-Ilmu nujum (perbintangan) termasuk salah satu jenis sihir.

4-Membuat buhulan dengan ditiupkan kepadanya termasuk sihir.

5-Mengadu domba juga termasuk perbuatan sihir.

6-Keindahan susunan kata [yang membuat kebatilan seolah-olah kebenaran dan kebenaran seolah-olah kebatilah] juga termasuk perbuatan sihir.

 

BAB 26

DUKUN, TUKANG RAMAL

DAN SEJENISNYA

 

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shohehnya, dari salah seorang istri Nabi r, bahwa Rasulullah r bersabda :

 

” من أتى عرافا فسأله عن شيء فصدقه لم تقبل له صلاة أربعين يوما “

“Barang siapa yang mendatangi peramal dan menanyakan kepadanya tentang sesuatu perkara dan dia mempercayainya, maka sholatnya tidak diterima selama 40 hari”.

 

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda :

” من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد r “. رواه أبو داود.

“Barang siapa yang mendatangi seorang dukun, dan mempercayai  apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad r” ( HR. Abu Daud ).

 

Dan diriwayatkan oleh empat periwayat ([26]) dan Al Hakim dengan menyatakan : “Hadits ini shahih menurut kriteria Imam Bukhori dan Muslim” dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda :

” من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد r

“Barang siapa yang mendatangi peramal atau dukun, lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesunggunya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad r”.

Abu Ya’la pun meriwayatkan hadits mauquf dari Ibnu Mas’ud seperti yang tersebut di atas, dengan sanad Jayyid.

 

Al Bazzar dengan sanad Jayyid meriwayatkan hadits marfu’ dari Imran bin Husain, bahwa Rasulullah r bersabda :

” ليس منا من تطير أو تطير له، أو تكهن أو تكهن له، أو سحر أو سحر له، ومن أتى كاهنا فصدقه فقد كفر بما أنزل على محمد r ” رواه البزار بإسناد جيد.

“Tidak termasuk golongan kami orang yang meminta dan melakukan Tathoyyur, meramal atau minta diramal, menyihir atau minta disihirkan, dan barang siapa yang mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad r.

 

Hadits ini diriwayatkan pula oleh At Thabrani dalam Mu’jam Al Ausath dengan sanad hasan dari Ibnu Abbas tanpa menyebutkan kalimat : “dan barang siapa mendatangi …”dst.

 

Imam Al Baghowi ([27]) berkata : “Al Arraf (peramal) adalah orang yang mendakwahkan dirinya mengetahui banyak hal dengan menggunakan isyarat isyarat yang dipergunakan untuk mengetahui barang curian atau tempat barang yang hilang dan semacamnya. Ada pula yang mengatakan : ia adalah Al Kahin ( dukun ) yaitu : orang yang bisa memberitahukan tentang hal-hal yang ghoib yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Dan ada pula yang mengatakan : ia adalah orang yang bisa memberitahukan tentang apa apa yang ada dihati seseorang”.

Menurut Abul Abbas Ibnu Taimiyah : “Al Arraf adalah sebutan untuk  dukun, ahli nujum, peramal nasib dan sejenisnya yang mendakwahkan dirinya bisa mengetahui hal hal ghaib dengan cara-cara tersebut.”

Ibnu Abbas berkata  tentang orang-orang yang menulis huruf huruf أبا جا د  sambil mencari rahasia huruf, dan memperhatikan bintang bintang : “Aku tidak tahu apakah orang yang melakukan hal itu akan memperoleh bagian keuntungan di sisi Allah”.

 

Kandungan bab ini :

1-Tidak dapat bertemu dalam diri seorang mukmin antara iman kepada  Al Qur’an dengan percaya kepada tukang ramal, dukun dan sejenisnya.

2-Pernyataan Rasul r bahwa mempercayai ucapan dukun adalah kufur.

3-Ancaman bagi orang yang minta diramalkan.

4-Ancaman bagi orang yang minta di tathoyyur kan.

5-Ancaman bagi orang yang minta disihirkan.

6-Ancaman bagi orang yang menulis huruf huruf أباجاد  [untuk mencari pelamat rahasia].

7-Perbedaan antara Kahin dan Arraf, [ bahwa kahin (dukun) ialah orang yang memberitahukan tentang perkara perkara yang akan terjadi di masa mendatang yang diperoleh dari syetan penyadap berita di langit ].

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 27

NUSYRAH

 

Diriwayatkan dari Jabir t, bahwa Rasulullah r ketika ditanya tentang Nusyrah, beliau menjawab :

” هي من عمل الشيطان “

“ Hal  itu termasuk perbuatan syetan”

( HR.Ahmad dengan sanad yang baik, dan Abu Daud )

Imam Ahmad ketika ditanya tentang nusyrah, menjawab : “Ibnu Mas’ud membenci itu semua.”

 

Diriwayatkan  dalam shoheh Bukhori, bahwa Qotadah menuturkan : Aku bertanya kepada Said bin Musayyab : “Seseorang yang terkena sihir atau diguna-guna, sehingga tidak bisa menggauli istrinya, bolehkah ia diobati dengan menggunakan Nusyrah ?”, ia menjawab :

” لا بأس به إنما يريدون به الإصلاح، فأما ما ينفع فلم ينه عنه “

“Tidak apa-apa, kerena yang mereka inginkan hanyalah kebaikan untuk menolak madlarat, sedang sesuatu yang bermanfaat itu tidaklah dilarang.”

 

Diriwayatkan dari Al Hasan t ia berkata : “tidak ada yang dapat melepaskan  pengaruh sihir kecuali tukang sihir”.

Ibnul qoyyim menjelaskan : “Nusyrah adalah penyembuhan terhadap seseorang yang terkena sihir. Caranya ada dua macam :

Pertama : dengan menggunakan sihir pula, dan inilah yang termasuk perbuatan syetan. Dan pendapat Al Hasan diatas termasuk dalam kategori ini, karena masing-masing dari orang yang menyembuhkan  dan orang yang disembuhkan mengadakan pendekatan kepada syetan dengan apa yang diinginkannya, sehingga dengan demikian perbuatan syetan itu gagal memberi pengaruh terhadap orang yang terkena sihir itu.

Kedua : Penyembuhan dengan menggunakan Ruqyah dan ayat-ayat yang berisikan minta perlindungan kepada Allah I, juga dengan obat obatan dan doa-doa yang diperbolehkan. Cara ini hukumnya boleh.

 

Kandungan bab ini :

1-larangan Nusyrah.

2-Perbedaan antara Nusyrah yang dilarang dan yang diperbolehkan. Dengan demikian menjadi jelas masalahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 28

TATHOYYUR

 

Firman Allah I :

] ألا إنما طائرهم عند الله ولكن أكثرهم لا يعلمون [

“Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi mereka tidak mengetahui” (QS. Al A’raf, 131 )

 

] قالوا طائرهم معكم أئن ذكرتم بل أنتم قوم مسرفون [

“Mereka (para Rasul)  berkata : “kesialan kalian itu adalah karena kalian sendiri, apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib sial)? sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.” ( QS. Yasin, 19 ).

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda :

 

” لا عدو ولا طيرة ولا هامة ولا صفر ” أخرجاه, وزاد مسلم ” ولا نوء ولا غول “.

“Tidak ada ‘Adwa, Thiyarah, Hamah, Shofar” ( HR. Bukhori dan Muslim ), dan dalam riwayat Imam Muslim terdapat tambahan : “ dan tidak ada Nau’, serta ghaul.” ([28]).

 

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan pula dari Anas bin Malik t , ia berkata :  Rasulullah r telah bersabda :

 

” لا عدو ولا طيرة ويعجبني الفأل”، قالوا : وما الفأل ؟ قال : ” الكلمة الطيبة “.

“Tidak ada ‘Adwa dan tidak ada Thiyarah, tetapi Fa’l menyenangkan diriku”, para sahabat bertanya : “apakah Fa’l itu ?” beliau menjawab : “yaitu kalimah thoyyibah ( kata kata yang baik )”.

 

Abu Daud meriwayatkan dengan sanad yang shoheh, dari Uqbah bin Amir, ia berkata : “Thiyarah disebut sebut dihadapan Rasulullah r, maka beliaupun bersabda :

” أحسنها الفأل، ولا ترد مسلما، فإذا رأى أحدكم ما يكره فليقل : اللهم لا يأتي بالحسنات إلا أنت، ولا يدفع السيئات إلا أنت، ولا حول ولا قوة إلى بك “.

“Yang paling baik adalah Fa’l, dan Thiyarah tersebut tidak boleh menggagalkan seorang muslim dari niatnya,  apabila salah seorang di antara kamu melihat sesuatu yang tidak diinginkannya, maka hendaknya ia berdo’a : “Ya Allah, tiada yang dapat mendatangkan kebaikan kecuali Engkau, dan tiada yang dapat menolak kejahatan kecuali Engkau, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali atas pertolonganMu”.

 

Abu Daud meriwayatkan hadits yang marfu’ dari Ibnu Mas’ud t, bahwa Rasulullah r bersabda :

 

” الطيرة شرك، الطيرة شرك، وما منا إلا …، ولكن الله يذهبه بالتوكل ” رواه أبو داود والترمذي وصححه وجعل آخره من قول ابن مسعود.

“Thiyarah itu perbuatan syirik, thiyarah itu perbuatan syirik, tidak ada seorangpun dari antara kita kecuali (telah terjadi dalam hatinya sesuatu dari hal ini ), hanya saja Allah I bisa menghilangkannya dengan tawakkal kepadaNya”.(HR.Abu Daud )

 

Hadits ini diriwayatkan juga oleh At Tirmidzi dan dinyatakan shoheh, dan kalimat terakhir ia jadikan sebagai ucapannya Ibnu Mas’ud )

 

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar t, bahwa Rasulullah r bersabda :

” من ردته الطيرة عن حاجته فقد أشرك “، قالوا : فما كفارة ذلك ؟ قال : أن تقول : اللهم لا خير إلا خيرك، ولا طير إلا طيرك، ولا إله إلا غيرك”.

“Barang siapa yang mengurungkan hajatnya karena thiyarah ini, maka ia telah berbuat kemusyrikan”, para sahabat bertanya : “lalu apa yang bisa menebusnya ?”,  Rasulullah r menjawab :” hendaknya ia berdoa : “ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dariMu, dan tiada kesialan kecuali kesialan dariMu, dan tiada sesembahan kecuali Engkau”.

 

Dan dalam riwayat yang lain dari Fadl bin Abbas, Rasulullah r bersabda :

” إنما الطيرة ما أمضاك أو ردك “

“Sesugguhnya Thiyarah itu adalah yang bisa menjadikan kamu terus melangkah, atau yang bisa mengurungkan niat ( dari tujuan kamu )”.

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang kedua ayat tersebut di atas ; surat Al A’raf 131, dan Yasin 19.

2-Pernyataan bahwa tidak ada ‘Adwa .

3-Pernyataan bahwa tidak ada thiyarah.

4-Pernyataan bahwa tidak ada hamah.

5-Pernyataan bahwa tidak ada shofar.

6-Al Fa’l tidak termasuk yang dilarang oleh Rasulullah, bahkan dianjurkan.

7-Penjelasan tentang makna Al Fa’l.

8-Apabila terjadi tathoyyur dalam hati seseorang, tetapi dia tidak menginginkannya, maka hal itu tidak apa-apa baginya, bahkan Allah I akan menghilangkannya dengan tawakkal kepadaNya.

9-Penjelasan tentang doa yang dibacanya, saat seseorang menjumpai hal tersebut.

10-Ditegaskan bahwa thiyaroh itu termasuk syirik.

11-Penjelasan tentang thiyarah yang tercela dan terlarang.

 

 

BAB 29

ILMU NUJUM ( PERBINTANGAN )

 

Imam Bukhori meriwayatkan dalam kitab shohihnya dari Qotadah t bahwa ia berkata :

” خلق الله هذه النجوم لثلاث : زينة للسماء، ورجوما للشياطين، وعلامات يهتدى بها، فمن تأول فيها غير ذلك أخطأ، وأضاع نصيبه، وتكلف ما لا علم له به”.

“Allah menciptakan bintang bintang ini untuk tiga hikmah : sebagai hiasan langit, sebagai alat pelempar syetan, dan sebagai tanda untuk petunjuk (arah dan sebagainya ). Maka barang siapa yang berpendapat selain hal tersebut maka ia telah melakukan kesalahan, dan menyianyiakan nasibnya, serta membebani  dirinya dengan hal yang diluar batas pengetahuannya”.

Sementara tentang mempelajari tata letak peredaran bulan, Qotadah mengatakan makruh, sedang Ibnu Uyainah tidak membolehkan, seperti yang diungkapkan oleh Harb dari mereka berdua. Tetapi Imam Ahmad memperbolehkan hal tersebut ([29]).

 

Abu Musa t menuturkan : Rasulullah r bersabda :

” ثلاثة لا يدخلون الجنة، مدمن الخمر، وقاطع الرحم، ومصدق بالسحر” رواه أحمد وابن حبان في صحيحه.

“Tiga orang yang tidak akan masuk sorga : pecandu khomr ( minuman keras ), orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan, dan orang yang mempercayai sihir ([30])”. ( HR. Ahmad dan Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya ).

 

Kandungan bab ini :

1-Hikmah diciptakannya bintang-bintang.

2-Sanggahan terhadap orang yang mempunyai anggapan adanya fungsi lain selain tiga tersebut.

3-Adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama tentang hukum mempelajari ilmu letak peredaran bulan.

4-Ancaman bagi orang yang mempercayai sihir ( yang di antara jenisnya adalah ilmu perbintangan ), meskipun ia mengetahui akan kebatilannya.

 

 

 

 

BAB 30

MENISBATKAN  TURUNNYA HUJAN

KEPADA BINTANG

 

Firman Allah I :

] وتجعلون رزقكم أنكم تكذبون [

“Dan kalian membalas rizki (yang telah dikaruniakan Allah) kepadamu dengan mengatakan perkataan yang tidak benar”(QS. Al Waqi’ah, 82 ).

 

Diriwayatkan dari Abu Malik Al Asy’ari t bahwa Rasulullah r bersabda :

” أربع في أمتي من أمر الجاهلية لا يتركهن : الفخر بالأحساب، والطعن في الأنساب، والاستسقاء بالنجوم، والنياحة على الميت، وقال : النائحة إذا لم تتب قبل موتها تقام يوم القيامة وعليها سربال من قطران، ودرع من جرب” رواه مسلم.

“Empat hal yang terdapat pada umatku yang termasuk perbuatan jahiliyah yang susah untuk ditinggalkan : membangga-banggakan kebesaran leluhurnya, mencela keturunan, mengaitkan turunnya hujan kepada bintang tertentu, dan meratapi orang mati”, lalu beliau bersabda : “wanita yang meratapi orang mati bila mati sebelum ia bertubat maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan ia dikenakan pakaian yang berlumuran dengan cairan tembaga, serta mantel yang bercampur dengan penyakit gatal” ( HR. Muslim ).

 

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Kholid t ia berkata : Rasulullah r mengimami kami pada sholat subuh di Hudaibiyah setelah semalaman turun hujan, ketika usai melaksanakan sholat, beliau menghadap kepada jamaah dan bersabda :

 

” هل تدرون ماذا قال ربكم ؟ قالوا : الله ورسوله أعلم، قال : أصبح عبادي مؤمن بي وكافر، فأما من قال : مطرنا بفضل الله ورحمته، فذلك مؤمن بي كافر بالكوكب، وأما من قال : مطرنا بنوءكذا وكذا، فذلك كافر بي مؤمن بالكوكب”.

“Tahukah kalian apakah yang difirmankan oleh Rabb pada kalian ?”,  mereka menjawab : “Allah dan RasulNya yang lebih tahu”, terus beliau bersabda : “Dia berfirman : “pagi ini ada diantara hamba-hambaku yang beriman dan ada pula yang kafir, adapun orang yang mengatakan : hujan turun berkat karunia  dan rahmat Allah, maka ia telah beriman kepadaKu dan kafir kepada bintang, sedangkan orang yang mengatakan : hujan turun karena bintang ini dan bintang itu, maka ia telah kafir kepadaKu dan beriman kepada bintang”.

 

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas t yang maknanya yang antara lain disebutkan demikian :

قال بعضهم : لقد صدق نوء كذاوكذا، فأنزل الله هذه الآية : ]فلا أقسم بمواقع النجوم [ إلى قوله ] تكذبون [.

“… ada di antara mereka berkata : ‘sungguh, telah benar bintang ini, atau bintang itu’, sehingga Allah menurunkan firmanNya :

] فلا أقسم بمواقع النجوم [ إلى قوله ] تكذبون [.

“Maka aku bersumpah dengan tempat tempat peredaran bintang” sampai kepada firmanNya :” Dan kamu membalas rizki ( yang telah dikaruniakan Allah ) kepadamu dengan perkataan yang tidak benar” ([31]).

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang maksud ayat dalam surat Al Waqi’ah ([32]).

2-Menyebutkan adanya empat perkara yang termasuk perbuatan jahiliyah.

3-Pernyataan bahwa salah satu diantaranya termasuk perbuatan kufur   ( yaitu menisbatkan turunnya hujan kepada bintang tertentu ).

4-Kufur itu ada yang tidak mengeluarkan seseorang dari Islam.

5-Di antara dalilnya adalah firman Allah yang disabdakan oleh Nabi dalam hadits qudsinya : “Pagi ini, di antara hamba hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada pula yang kafir …” disebabkan turunnya ni’mat hujan.

6-Perlu pemahaman yang mendalam tentang iman dalam kasus tersebut.

7-Begitu juga tentang kufur dalam kasus tersebut.

8-Di antara pengertian kufur, adalah ucapan salah seorang dari mereka : “sungguh telah benar bintang ini atau bintang itu.”

9-Metode pengajaran kepada orang yang tidak mengerti masalah dengan melontarkan suatu pertanyaan, seperti sabda beliau : “tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kepada kalian ?”.

10-ncaman bagi wanita yang meratapi orang mati.

 

 

BAB 31

[CINTA KEPADA ALLAH]

 

Firman Allah I :

] ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله [

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengangkat  tandingan tandingan selain Allah, mereka mencintaiNya sebagaimana mencintai Allah, adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah, 165 ).

 

] قل إن كان آباؤكم وأبناؤكم وإخوانكم وأزواجكم وعشيرتكم وأموال اقترفتموها وتجارة تخشون كسادها ومساكن ترضونها أحب إليكم من الله ورسوله وجهاد في سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره [

“Katakanlah jika babak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri istri, keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai; itu lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, dan daripada berjihad di jalanNya,  maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya” ( QS. At taubah, 24 ).

 

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Anas t bahwa Rasulullah r bersabda :

” لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من ولده ووالده والناس أجمعين “.

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga aku lebih  dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya”.

 

Juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Anas t Rasulullah r bersabda :

” ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان : أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار”. وفي رواية : ” لا يجد أحد حلاوة الإيمان حتى … إلى آخره.

“Ada tiga perkara, barang siapa terdapat di dalam dirinya ketiga perkara itu,  maka ia pasti mendapatkan manisnya iman, yaitu : Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari pada yang lain, mencintai seseorang tiada lain hanya karena Allah, benci ( tidak mau kembali ) kepada kekafiran setelah ia diselamatkan oleh Allah darinya, sebagaimana ia benci kalau dicampakkan kedalam api”.

Dan disebutkan dalam riwayat lain : “Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman, sebelum …”dst.

 

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas t, bahwa ia berkata :

” من أحب في الله، وأبغض في الله، ووالى في الله، وعادى في الله، فإنما تنال ولاية الله بذلك، ولن يجد عبد طعم الإيمان وإن كثرت صلاته وصومه حتى يكون كذلك، وقد صار عامة مؤاخاة الناس على أمر الدنيا، وذلك لا يجدي على أهله شيئا” رواه ابن جرير.

“Barangsiapa yang mencintai seseorang karena Allah, membenci karena Allah, membela Karena Allah, memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan Allah itu diperolehnya dengan hal-hal tersebut, dan seorang hamba tidak akan bisa menemukan lezatnya iman, meskipun banyak melakukan sholat dan puasa, sehingga ia bersikap demikian. pada umumnya persahabatan yang dijalin di antara  manusia dibangun atas dasar kepentingan dunia, dan itu tidak  berguna  sedikitpun baginya”.

 

Ibnu Abbas menafsirkan firman Allah I :

] وتقطعت بهم الأسباب [ قال : المودة.

“ … dan putuslah hubungan di antara mereka” ( QS. Al baqarah, 166). Ia mengatakan : yaitu kasih sayang.

 

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat dalam surat Al Baqarah ([33]).

2-Penjelasan tentang ayat dalam surat At Taubah ([34]).

3-Wajib mencintai Rasulullah r lebih dari kecintaan terhadap diri sendiri, keluarga dan harta benda.

4-Pernyataan “tidak beriman” bukan berarti keluar dari Islam.

5-Iman itu memiliki rasa manis, kadang dapat diperoleh seseorang, dan kadangkala tidak.

6-Disebutkan empat sikap yang merupakan syarat mutlak untuk memperoleh  kecintaan Allah. Dan seseorang tidak akan menemukan kelezatan iman  kecuali dengan keempat sikap itu.

7-Pemahaman Ibnu Abbas terhadap realita, bahwa hubungan persahabatan antar sesama manusia pada umumnya dijalin atas dasar kepentingan duniawi.

8-Penjelasan tentang firman Allah : “ … dan terputuslah segala hubungan antara mereka sama sekali. ([35])”

9-Disebutkan bahwa di antara orang-orang musyrik ada yang mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat besar.

10-Ancaman terhadap seseorang yang mencintai kedelapan perkara  diatas [orang tua, anak-anak, paman, keluarga, istri, harta kekayaan, tempat tinggal dan perniagaan] lebih dari cintanya terhadap agamanya.

11-Mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya  sebagaimana mencintai Allah adalah syirik akbar.

 

 

BAB 32

[TAKUT KEPADA ALLAH]

 

Firman Allah I :

] إنما ذلكم الشيطان يخوف أولياءه، فلا تخافوهم وخافوني إن كنتم مؤمنين [

“Sesungguhnya mereka itu tiada lain hanyalah syetan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik ) karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu saja, jika kamu benar-benar orang yang beriman” ( QS. Ali Imran, 175).

 

] إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر وأقام الصلاة وآتى الزكاة ولم يخش إلا الله فعسى أولئك أن يكونوا من المهتدين [.

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari ahir, serta tetap mendirikan sholat, membayar zakat, dan tidak takut ( kepada siapapun) selain kepada Allah ( saja ), maka mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” ( QS. At Taubah, 18 ).

 

] ومن الناس من يقول آمنا بالله فإذا أوذي في الله جعل فتنة الناس كعذاب الله ولئن جاء نصر من ربك ليقولن إنا كنا معكم أوليس الله بأعلم بما في صدور العالمين [

“Dan diantara manusia ada yang berkata : kami beriman kepada Allah, tetapi apabila ia mendapat perlakuan yang menyakitkan karena (imannya kepada) Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai adzab Allah, dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata :“Sesungguhnya kami besertamu” bukankah Allah mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia ?” (QS. Al ankabut, 10 ).

 

Diriwayatkan dalam hadits marfu’ dari Abu Said t, Rasulullah r bersabda :

” إن من ضعف اليقين أن ترضي الناس بسخط الله، وأن تحمدهم على رزق الله، وأن تذمهن على ما لم يؤتك الله، إن رزق الله لا يجره حرص حريص، ولا يرده كراهية كاره”.

“Sesungguhnya termasuk lemahnya keyakinan adalah jika kamu mencari ridla manusia dengan mendapat kemurkaan Allah, dan memuji mereka atas rizki yang Allah berikan lewat perantaraannya, dan mencela mereka atas dasar sesuatu yang belum diberikan Allah kepadamu  melalui mereka, ingat sesungguhnya rizki Allah tidak dapat didatangkan oleh ketamakan orang yang tamak, dan tidak pula dapat digagalkan oleh kebenciannya orang yang membenci”.

 

Diriwayatkan dari Aisyah, ra. Bahwa Rasulullah r bersabda :

” من التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس ” رواه ابن حبان في صحيحه.

“Barangsiapa yang mencari Ridla Allah sekalipun dengan resiko mendapatkan kemarahan manusia, maka Allah  akan meridlainya,  dan akan menjadikan manusia ridla kepadanya, dan barangsiapa yang mencari ridla manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya,  dan akan menjadikan manusia murka pula  kepadanya” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shohehnya ).

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat dalam surat Ali Imran ([36]).

2-Penjelasan tentang ayat dalam surat At Taubah ([37]).

3-Penjelasan tentang ayat dalam surat Al ‘Ankabut ([38]).

4-Keyakinan itu bisa menguat dan bisa melemah.

 

5-Tanda-tanda melemahnya keyakinan antara lain tiga perkara yang disebutkan  dalam hadits Abu Said t diatas.

6-Memurnikan rasa takut hanya kepada Allah adalah termasuk kewajiban.

7-Adanya pahala bagi orang yang melakukannya.

8-Adanya ancaman bagi orang yang meninggalkannya.

 

 

BAB 33

[TAWAKKAL KEPADA ALLAH]

 

Firman Allah I :

] وعلى الله فتوكلوا إن كنتم مؤمنين [

“Dan hanya kepada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar benar orang yang beriman” ( QS. Al Maidah, 23 ).

] إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله وجلت قلوبهم وإذا تليت عليهم آياته زادتهم إيمانا وعلى ربهم يتوكلون [

“Sesungguhnya  orang-orang yang beriman (dengan sempurna) itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka karenanya, serta hanya kepada Rabbnya mereka bertawakkal” ( QS. Al Anfal, 2 )

] يا أيها النبي حسبك الله ومن اتبعك من المؤمنين [

“Wahai Nabi, cukuplah Allah ( menjadi pelindung ) bagimu, dan bagi orang orang mu’min yang mengikutimu” ( QS. Al Anfal, 64 ).

] ومن يتوكل على الله فهو حسبه [

“ … dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” ( QS. At tholaq, 3 ).

] حسبنا الله ونعم الوكيل [

“Cukuplah Allah bagi kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung” (QS. Ali Imran, 173 ).

 

Kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim u saat beliau dicampakkan kedalam kobaran api, dan diucapkan pula oleh Nabi Muhammad disaat ada yang berkata kepada beliau : “Sesungguhnya orang-orang quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, tetapi perkataan itu malah menambah keimanan beliau …” ( QS. Ali Imran, 173 ).

 

Kandungan bab ini :

1-Tawakkal itu termasuk kewajiban.

2-Tawakkal itu termasuk syarat-syarat iman.

3-Penjelasan tentang ayat dalam surat Al Anfal ([39]).

4-Penjelasan tentang ayat dalam akhir surat Al Anfal ([40]).

5-Penjelasan tentang ayat dalam surat At-Tholaq ([41]).

6-Kalimat حسبنا الله ونعم الوكيل  mempunyai kedudukan yang sangat penting, kerena telah diucapkan oleh Nabi Ibrahim u dan Nabi Muhammad r ketika dalam situasi yang sulit sekali.

 

 

 



([1] )   Bab ini menjelaskan bukti lain yang menunjukkan kebatilan syirik dan hanya Allah yang berhak dengan segala macam ibadah. Karena apabila para malaikat, sebagai makhluk yang sangat perkasa dan paling kuat, bersimpuh sujud di hadapan Allah yang Maha tinggi dan Maha besar ketika mendengar firmanNya, maka tidak ada yang berhak dengan ibadah, puja dan puji, sanjungan dan pengagungan kecuali Allah.

([2] )Sufyan bin Uyainah bin Maimun Al Hilali, salah seorang periwayat hadits ini.

([3] )   Ayat ini menerangkan keadaan para malaikat, yang mana mereka  adalah makhluk Allah yang paling kuat dan amat perkasa yang disembah oleh orang orang musyrik. Apabila demikian keadaan meraka dan rasa takut mereka kepada Allah ketika Allah berfirman, maka apakah pantas mereka  dijadikan sesembahan selain Allah ? tentu tidak pantas, dan makhluk selain mereka lebih tidak pantas lagi.

([4] )   Firman Allah ini menunjukkan : bahwa Kalamullah bukanlah makhluk (ciptaan ), karena mereka berkata : “ Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu ?”, menunjukkan pula bahwa Allah Maha Tinggi di atas seluruh makhlukNya, dan Maha Besar yang kebesaranNya tidak dapat dijangkau oleh pikiran mereka.

([5] )   Syafaat telah dijadikan dalil oleh kaum musyrikin dalam memohon kepada malaikat, nabi dan wali. Kata mereka : “Kami tidak memohon kepada mereka kecuali untuk mendekatkan  diri kepada Allah dan memberikan syafaat kepada kami di sisiNya”, maka dalam bab ini diuraikan bahwa syafaat yang mereka harapkan itu adalah percuma, bahkan syirik ; dan syafaat hanyalah hak Allah semata, tiada yang dapat memberi syafaat kecuali dengan seizinNya bagi siapa yang mendapat ridhaNya.

([6] )   Taqiyuddin Abul Abbas ibnu Taimiyah : Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah An Numairi Al Harrani Ad Dimasqi. Syaikhul Islam, dan tokoh yang gigih sekali dalam gerakan dakwah Islamiyah. Dilahirkan di Harran, tahun 661 H ( 1263 M ) dan meninggal di Damaskus tahun 728 H ( 1328 ).

([7] )   Ayat pertama dan kedua menunjukkan bahwa syafaat seluruhnya adalah hak khusus bagi Allah.

        Ayat ketiga menunjukkan bahwa syafaat itu tidak diberikan kepada seseorang, tanpa adanya izin ddari Allah.

        Ayat keempat menunjukkan bahwa syafaat itu diberikan oleh orang yang diridloi Allah dengan izin dariNya. Dengan demikian syafaat itu adalah hak mutlak Allah, tidak dapat diminta kecuali dariNya; dan menunjukkan pula kebatilan syirik yang dilakukan oleh kaum musyrikin dengan mendekatkan diri kepada malaikat, nabi atau orang orang sholeh, untuk meminta syafaat mereka.

        Ayat kelima mengandung bantahan terhadap kaum musyrikin yang mereka itu menyeru selain Allah, seperti malaikat dan makhluk makhluk lainnya, karena menganggap bahwa makhluk makhluk itu bisa mendatangkan manfaat dan menolak madlarat; dan menunjukkan bahwa syafaat tidak berguna bagi mereka, karena syirik yang mereka lakukan, tetapi hanya berguna bagi orang yang mengamalkan tauhid, dan itupun dengan izin Allah.

([8] )   Bab ini merupakan bukti adanya kewajiban bertauhid kepada Allah. Karena apabila Nabi Muhammad r sebagai makhluk termulia dan yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah, tidak dapat memberi hidayah kepada siapapun yang beliau inginkan, maka tidak ada sembahan yang haq melainkan Allah, yang bisa memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

([9] )   Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah ( petunjuk )  untuk masuk Islam itu hanyalah di Tangan Allah saja, tidak ada seorangpun yang dapat menjadikan seseorang menapaki jalan yang lurus ini kecuali dengan kehendakNya; dan mengandung bantahan terhadap orang orang yang mempunyai kepercayaan bahwa para nabi dan wali itu dapat mendetangkan manfaat dan menolak madlarat, sehingga diminta untuk memberikan ampunan, menyelamatkan diri dari kesulitan, dan untuk kepentingan kepentingan lainnya.

([10] )  Ayat ini menunjukkan tentang haramnya memintakan ampun bagi orang orang musyrik; dan haram pula berwala’ ( mencintai, memihak dan membela ) kepada mereka.

([11] )  Penjelasannya ialah : diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan apa yang menjadi konsekwensinya, yaitu : memurnikan ibadah hanya kepada Allah, dan membersihkan diri dari ibadah kepada selain Nya, seperti : malaikat, nabi, wali , kuburan, batu, pohon, dan lain lain.

([12] )  Abu Abdillah : Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Sa’d Az Zur’I Ad Dimasqi, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah. Seorang ulama besar dan tokoh gerakan da’wah Islamiyah; murid syekhul Islam Ibnu Taimiyah. Mempunyai banyak karya ilmiyah. Dilahirkan tahun 691 H (1292 M ) dan meninggal tahun 751 H ( 1350 M ).

([13] )  Ayat ini menunjukkan bahwa sikap yang berlebih lebihan dan melampaui batas terhadap orang orang sholeh adalah yang menyebabkan terjadinya syirik dan tuntunan agama para Nabi ditinggalkan.

([14] )  Rafidhah adalah salah satu sekte dalam aliran syi’ah. Mereka bersikap berlebih lebihan terhadap Ali bin Abi Tholib dan ahlul bait, dan mereka menyatakan permusuhan terhadap sebagian besar sahabat Rasulullah, khususnya Abu Bakar dan Umar.

([15] )  Jahmiyah adalah aliran yang timbul pada akhir khilafah Bani Umayyah. Disebut demikian, karena dinisbatkan pada nama tokoh mereka, yaitu Jahm bin Shofwan At Tirmidzi, yang terbunuh pada tahun 128 H. di antara pendapat aliran ini adalah menolak kebenaran adanya Asma’ dan Sifat Allah, karena menurut anggapan mereka Asma dan Sifat adalah ciri khas makhluk, maka apabila diakui dan ditetapkan untuk Allah berarti menyerupakan Allah dengan makhlukNya.

([16] )  Berhala adalah sesuatu yang diagungkan selain Allah, seperti kuburan, batu, pohon dan sejenisnya.

([17] )  Mengagungkan kuburan dengan dijadikannya sebagai tempat ibadah adalah termasuk pengertian ibadah yang dilarang oleh Rasulullah.

 

([18] )  Ayat ini, dengan sifat sifat yang disebutkan di dalamnya untuk pribadi Nabi Muhammad r, menunjukkah bahwa beliau telah memperingatkan umatnya agar menjauhi syirik, yang merupakan dosa paling besar, karena inilah tujuan utama diutusnya Rasulullah r.

([19] )  Terdapat bebarapa penafsiran dari kalangan salaf, tentang makna Jibt, antara lain : berhala, sihir, tukang sihir, tukang ramal, Huyai bin Akhthob dan Ka’ab bin Al Asyraf ( kedua orang ini adalah tokoh orang orang yahudi di zaman Rasulullah r ). Dengan demikian, pengertian umum mencakup makna ini semua, sebagaimana yang dikatakan oleh Al Jauhari dalam Ash Shihah : “ Jibt adalah kata kata yang dapat digunakan untuk berhala, tukang ramal, tukang sihir dan sejenisnya ..”

        Demikian halnya dengan kata kata thoghut, terdapat beberapa penafsiran, yang menunjukkan pengertian umum. Antara lain : syetan, syetan dalam wujud manusia, behala, tukang ramal, Ka’ab Al Asyraf.

        Ibnu Jarir Ath Thobari, dalam menafsirkan ayat ini, setelah menyebutkan beberapa penafsiran ulama salaf, mengatakan : “ … Jibt dan thoghut ialah dua sebutan untuk setiap yang diagungkan dengan disembah selain Allah, atau di taati, atau dipatuhi; baik yang diagungkan itu batu, manuisa ataupun syetan.

([20] )  Ayat ini menunjukkan bahwa apabila orang-orang yang diturunkan kepada mereka Al Kitab mau beriman kepada Jibt dan Thoghut, maka tidak mustahil dan tidak dapat dipungkiri bahwa umat ini yang telah diturunkan kepadanya  Al Qur’an akan berbuat pula seperti yang mereka perbuat, karena Rasulullah r telah memberitahukan bahwasanya akan ada di diantara umat ini  orang-orang yang berbuat seperti  apa yang diperbuat oleh orang-orang  Yahudi dan Nasrani.

([21] )  Ayat ini menunjukkan  bahwa akan terjadi di kalangan umat ini penyembahan thaghut, sebagaimana telah terjadi penyembahan thaghut di kalangan ahli kitab.

([22] )          Ayat ini menunjukkan bahwa ada di antara umat ini orang yang membangun tempat ibadah di atas atau di sekitar kuburan, sebagaimana telah dilakukan oleh orang orang sebelum mereka.

([23] )          Al Mukhtar bin Abu Ubaid bin Mas’ud Ats Tsaqafi. Termasuk tokoh yang memberontak terhadap kekuasaan Bani Umayyah dan menonjolkan kecintaan kepada Ahlu bait. Mengaku bahwa ia adalah nabi dan menerima wahyu. Di bunuh oleh Mush’ab bin Az Zubair pada tahun 67 H. ( 687 M ).

([24] )  Ayat pertama menunjukkan bahwa sihir haram hukumnya, dan pelakunya kafir, disamping mengandung ancaman berat bagi orang yang berpaling dari kitab Allah, dan mengamalkan amalan yang tidak bersumber darinya.

([25] )  Ayat kedua menunjukkan bahwa ada di antara umat ini yang beriman kepada sihir ( Jibt ), sebagaimana ahli kitab beriman kepadanya, karena Rasulullah r telah menegaskan bahwa akan ada  di antara umat ini yang mengikuti ( dan meniru ) umat umat sebelumnya.

([26] )Yakni : Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai’ dan Ibnu Majah.

([27] )  Abu Muhammad Al Husain bin Mas’ud bin Muhammad Al Farra’, atau Ibn Farra’ Al- Baghawi. Diberi gelar Muhyi – s – Sunnah. Kitab kitab yang disusunnya antara lain : syarh as sunnah, al jami’ baina ash shahihain. Lahir tahun 436 H ( 1044 M ), dan meninggal tahun 510 H ( 1117 M ).

([28] )  Adwa : penjangkitan atau penularan penyakit. Maksud sabda Nabi di sini ialah untuk menolak anggapan mereka ketika masih hidup di zaman jahiliyah, bahwa penyakit berjangkit atau menular dengan sendirinya, tanpa kehendak dan takdir Allah I. Anggapan inilah yang ditolak oleh Rasulullah r, bukan keberadaan penjangkitan atau penularan; sebab, dalam riwayat lain, setelah hadits ini, disebutkan :

      ( وفروا من المجذوم كما تفروا من الأسد )

        “… dan menjauhlah dari orang yang terkena penyakit kusta ( lepra ) sebagaimana kamu menjauh dari singa.” ( HR. Bukhori ).

        Ini menunjukkan bahwa penjangkitan atau penularan penyakit dengan sendirinya tidak ada, tetapi semuanya atas kehendak dan takdir Ilahi, namun sebagai  insan muslim di samping iman kepada takdir tersebut haruslah berusaha melakukan tindakan preventif sebelum terjadi penularan sebagaimana usahanya menjauh dari  terkaman singa. Inilah hakekat iman kepada takdir Ilahi.

        Thiyarah : merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya, atau apa saja.

        Hamah : burung hantu. Orang-orang jahiliyah merasa bernasib sial dengan melihatnya, apabila ada burung hantu hinggap di atas rumah salah seorang diantara mereka, dia merasa bahwa burung ini membawa berita kematian tentang dirinya sendiri, atau salah satu anggota keluarganya. Dan maksud beliau adalah untuk menolak anggapan yang tidak benar ini. Bagi seorang  muslim, anggapan seperti ini harus tidak ada, semua adalah dari Allah dan sudah ditentukan olehNya.

        Shafar : bulan kedua dalam tahun hijriyah, yaitu bulan sesudah Muharram. Orang-orang jahiliyah beranggapan bahwa bulan ini membawa nasib sial atau tidak menguntungkan. Yang demikian dinyatakan tidak ada oleh Rasulullah. Dan termasuk dalam anggapan seperti ini : merasa bahwa hari rabu mendatangkan sial, dan lain lain. Hal ini termasuk jenis thiyarah, dilarang dalam Islam.

        Nau’ : bintang; arti asalnya adalah : tenggelam atau terbitnya suatu bintang. Orang-orang jahiliyah menisbatkan turunnya hujan kepada bintang ini, atau bintang itu. Maka Islam datang mengikis anggapan seperti ini, bahwa tidak ada hujan turun karena suatu bintang tertentu, tetapi semua itu adalah ketentuan dari Allah U.

                Ghaul : hantu (gendruwo), salah satu makhluk jenis jin. Mereka beranggapan bahwa hantu ini dengan perubahan bentuk maupun warnanya dapat menyesatkan seseorang dan mencelakakannya. Sedang maksud sabda Nabi di sini bukanlah tidak mengakui keberadaan makhluk seperti ini, tetapi menolak anggapan mereka yang tidak baik tersebut yang akibatnya takut kepada selain Allah, serta tidak bertawakkal kepadaNya, inilah yang ditolak oleh beliau ; untuk itu dalam hadits lain beliau bersabda : “Apabila hantu beraksi manakut nakuti kamu, maka serukanlah adzan.” Artinya : tolaklah kejahatannya itu dengan berdzikir dan menyebut Allah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Musnad.

 

([29] )  Maksudnya, memperlajari letak matahari, bulan dan bintang, untuk mengetahui arah kiblat, waktu shalat dan semisalnya, maka hal itu diperbolehkan.

([30] )  Mempercayai sihir yang di antara macamnya adalah ilmu nujum ( astrologi ), sebagaimana yang telah dinyatakan dalam suatu hadits : “ barang siapa yang mempelajari sebagian dari ilmu nujum, maka sesungguhnya dia telah mempelajari sebagian dari ilmu sihir…” lihat bab 25.

([31] )  Surat Al Waqi’ah, ayat 75 – 82

([32] )  Dalam ayat ini Allah mencela orang-orang musyrik atas kekafiran mereka terhadap ni’mat yang dikaruniakan Allah dengan menisbatkan turunnya hujan kepada bintang ; dan Allah menyatakan bahwa perkatan ini dusta dan tidak benar, karena turunnya hujan adalah karunia dan rahmat dariNya.

([33] )  Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang mempertuhankan selain Allah dengan mencintainya seperti mencintai Allah, maka dia adalah musyrik.

([34] )  Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah dan cinta kepada yang dicintai Allah wajib didahulukan di atas segala galanya.

([35] )  Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang yang telah dibina orang-orang musyrik di dunia akan terputus sama sekali ketika di akhirat, dan masing-masing dari mereka akan melepaskan diri darinya.

([36] )  Ayat ini menunjukkan bahwa khauf ( takut ) termasuk ibadah yang harus ditujukan kepada Allah semata, dan di antara tanda kesempurnaan iman ialah tiada merasa takut kepada siapapun selain Allah saja.

([37] )  Ayat ini menunjukkan bahwa memurnikan rasa takut kepada Allah adalah wajib, sebagaimana shalat, zakat dan kewajiban lainnya.

([38] )  Ayat ini menunjukkan bahwa merasa takut akan perlakuan buruk dan menyakitkan dari manusia dikarenakan iman kepada Allah adalah termasuk takut kepada selain Allah ; dan menunjukkan pula kewajiban bersabar dalam berpegang teguh kepada jalan Allah.

([39] )  Ayat ini menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah merupakan sifat orang-orang yang beriman kepada Allah; dan menunjukkan bahwa iman dapat bertambah dan dapat pula berkurang.

([40] )  Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi dan orang-orang beriman yang mengikutinya supaya bertawakkal kepada Allah, karena Allah lah yang akan mencukupi keperluan mereka.

([41] )  Ayat ini menunjukkan kewajiban bertawakkal kepada Allah dan pahala bagi orang yang melakukannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s