Kitab Tauhid Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab Ke-3 كتاب التوحيدApril

 

 

BAB 34

MERASA AMAN DARI SIKSA ALLAH

DAN BERPUTUS ASA DARI RAHMATNYA

 

Firman Allah I :

] أفأمنوا مكر الله، فلا يأمن مكر الله إلا القوم الخاسرون [

“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah ( yang tiada terduga duga ) ?, tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi” ( QS. Al A’raf, 99 ).

] ومن يقنط من رحمة ربه إلا الضالون [

“Dan tiada yang berputus asa dari rahmat Rabbnya kecuali orang orang yang sesat” ( QS. Al Hijr, 56 ).

 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas t bahwa Rasulullah r ketika ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab :

” الشرك بالله، واليأس من روح الله، والأمن من مكر الله “.

“Yaitu : syirik kepada Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar  Allah”.

 

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud t, ia berkata :

” أكبر الكبائر : الإشراك بالله، والأمن من مكر الله، والقنوط من رحمة الله، واليأس من روح الله “.

“Dosa besar yang paling besar adalah : mensekutukan Allah, merasa aman dari siksa Allah, berputus harapan dari rahmat Allah, dan berputus asa dari pertolongan Allah” ( HR. Abdur Razzaq ).

 

 

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat dalam surat Al A’raf ([1]).

2-Penjelasan tentang ayat dalam surat Al Hijr ([2]).

3-Ancaman yang keras bagi orang yang merasa aman dari siksa Allah.

4-Ancaman yang keras bagi orang yang berputus asa dari rahmat Allah.

 

 

 

BAB 35

SABAR TERHADAP TAKDIR ALLAH

ADALAH BAGIAN DARI IMAN KEPADANYA

Allah I berfirman :

] وما أصاب من مصيبة إلا بإذن الله، ومن يؤمن بالله يهد قلبه والله بكل شيء عليم [

“Tiada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS. At Taghobun  11 )

 

‘Alqomah  ([3]) menafsirkan Iman yang disebutkan dalam ayat ini dengan mengatakan :

” هو الرجل تصيبه المصيبة فيعلم أنها من عند الله فيرضى ويسلم “

“Yaitu : orang  yang ketika ditimpa musibah, ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridla dan pasrah ( atas takdirNya ).

 

Diriwayatkan dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda :

” اثنان في الناس هما بهم كفر، الطعن في النسب، والنياحة على الميت “

“Ada dua  perkara  yang masih dilakukan oleh manusia, yang kedua duanya merupakan bentuk kekufuran : mencela keturunan, dan meratapi orang mati”.

 

Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadits marfu’, dari Ibnu Mas’ud t, bahwa Rasulullah r bersabda :

” ليس منا من ضرب الخدود، وشق الجيوب، ودعا بدعوى الجاهلية “.

“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan orang-orang jahiliyah”.

 

Diriwayatkan dari Anas t sesungguhnya Rasulullah r bersabda :

 

إذا أراد الله بعبده الخير عجل الله له بالعقوبة في الدنيا، وإذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة “

“Apabila Allah menghendaki kebaikan pada seorang hambanya, maka Ia percepat hukuman baginya di dunia, dan apabila Ia menghendaki keburukan pada  seorang hambanya, maka Ia tangguhkan dosanya sampai ia penuhi balasannya nanti pada hari kiamat.”(HR. Tirmidzi dan Al Hakim)

 

 

Nabi Muhammad r bersabda :

” إن عظم الجزاء مع عظم البلاء ، وإن الله تعالى إذا أحب قوما ابتلاهم، فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط ” حسنه الترمذي.

“Sesungguhnya besarnya balasan itu sesuai dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah I jika mencintai suatu kaum,  maka Ia akan mengujinya, barang siapa yang ridla akan  ujian itu maka baginya keridloan Allah, dan barang siapa yang marah / benci terhadap ujian tersebut, maka baginya kemurkaan Allah” ( Hadits hasan menurut Imam Turmudzi ).

 

 

 

Kandungan dalam bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat dalam surat At Taghobun ([4]).

2-Sabar terhadap cobaan termasuk iman kepada Allah I.

3-Disebutkan tentang hukum mencela keturunan.

4-Ancaman keras bagi orang yang memukul-mukul pipi, merobek robek baju, dan menyeru kepada seruan jahiliah [karena meratapi orang mati].

5-Tanda apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya.

6-Tanda apabila Allah menghendaki keburukan kepada hambaNya.

7-Tanda kecintaan Allah kepada hambaNya.

8-Dilarang bersikap marah dan tidak sabar atas cobaan ketika diuji oleh Allah I.

9-Pahala bagi orang yang ridla atas ujian dan cobaan.

 

 

 

BAB 36

RIYA ([5])

 

Firman Allah I :

] قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد، فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا [

“Katakanlah : “ sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku : ‘bahwa sesungguhnya sesembahan kamu adalah sesembahan yang Esa’, maka barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah ia mengerjakan amal sholeh dan janganlah ia berbuat kemusyrikan sedikitpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” ( QS.  Al Kahfi, 110 ).

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah t dalam hadits marfu’, bahwa Rasulullah r bersabda : Allah I berfirman :

” أنا أغنى الشركاء عن الشرك، من عمل عملا أشرك معي فيه غيري تركته وشركه ” رواه مسلم.

“Aku adalah Sekutu Yang Maha cukup sangat menolak perbuatan syirik. Barang siapa yang mengerjakan amal perbuatan dengan dicampuri perbuatan syirik kepadaKu, maka Aku tinggalkan ia bersama perbuatan syiriknya itu” ( HR. Muslim ).

 

Diriwayatkan dari Abu Said t dalam hadits marfu’ bahwa Rasulullah r bersabda :

” ألا أخبركم بما هو أخوف عليكم عندي من المسيح الدجال ؟”, قالوا : بلى يا رسول الله، قال : ” الشرك الخفي يقوم الرجل فيصلي فيزين صلاته لما يرى من نظر رجل إليه ” رواه أحمد.

“Maukah kalian aku beritahu tentang sesuatu  yang bagiku lebih aku hawatirkan terhadap kamu dari pada Al Masih Ad dajjal ([6]) ?”, para sahabat menjawab : “baik, ya Rasulullah.”, kemudian Rasulullah r bersabda : “syirik yang tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri melakukan sholat, ia perindah sholatnya itu  kerena mengetahui  ada orang lain  yang melihatnya” (HR. Ahma ).

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat dalam surat Al Kahfi ([7]).

2-Masalah yang penting sekali, yaitu : pernyataan bahwa amal shalih apabila dicampuri dengan sesuatu yang bukan karena Allah, maka tidak akan diterima oleh Allah I.

3-Hal itu disebabkan karena Allah I adalah sembahan yang sangat menolak perbuatan syirik karena sifat ke – Mahacukupan –Nya.

4-Sebab yang lain adalah karena Allah I adalah sekutu yang terbaik.

5-Rasulullah r sangat khawatir apabila sahabatnya melakukan  riya’.

6-Penjelasan tentang riya dengan menggunakan contoh sebagai berikut : seseorang melakukan sholat karena Allah, kemudian ia perindah sholatnya karena ada orang  lain yang memperhatikannya.

 

 

BAB 37

MELAKUKAN AMAL SHOLEH UNTUK KEPENTINGAN DUNIA ADALAH SYIRIK

 

Firman Allah I :

] من كان يريد الحياة الدنيا وزينتها نوف إليهم أعمالهم فيها، وهم فيها لا يبخسون، أولئك الذين ليس لهم في الآخرة إلا النار وحبط ما صنعوا فيها وباطل ما كانوا يعملون [

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasaanya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan, mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan lenyaplah di ahirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, serta sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” ( QS. Hud, 15 –16 ).

 

Dalam shoheh Bukhori dari Abu Hurairah, Rasulullah r bersabda :

” تعس عبد الدينار، تعس عبد الدرهم، تعس عبد الحميصة، تعس عبد الخميلة، إن أعطي رضي، وإن لم يعط سخط، تعس وانتكس، وإذا شيك فلا انتقس، طوبى لعبد أخذ بعنان فرسه في سبيل الله ، أشعث رأسه، مغبرة قدماه، إن كان في الحراسة كان في الحراسة، وإن كان في الساقة كان في الساقة، إن استأذن لم يؤذن له، وإن شفع لم يشفع “.

“Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba khomishoh, celaka hamba khomilah ([8]), jika diberi ia senang, dan jika tidak diberi ia marah, celakalah ia dan tersungkurlah ia, apabila terkena duri semoga  tidak bisa mencabutnya, berbahagialah seorang hamba yang memacu kudanya ( berjihad dijalan Allah ), dengan kusut rambutnya, dan berdebu kedua kakinya, bila ia ditugaskan sebagai penjaga, dia setia berada di pos penjagaan, dan bila ditugaskan digaris belakang, dia akan tetap setia digaris belakang, jika ia minta izin (untuk menemui raja atau penguasa) tidak diperkenankan ([9]), dan jika bertindak sebagai pemberi syafaat ( sebagai perantara ) maka tidak diterima syafaatnya (perantaraannya)”.

 

Kandungan bab ini :

1-Motivasi seseorang dalam amal ibadahnya, yang semestinya untuk akhirat malah untuk kepentingan duniawi [termasuk syirik dan menjadikan pekerjaan itu sia-sia tidak diterima oleh Allah]

2-Penjelasan tentang ayat dalam surat Hud ([10]).

3-Manusia muslim disebut sebagai hamba dinar, hamba dirham, hamba khamishah dan khamilah [jika menjadikan kesenangan duniawi sebagai tujuan].

4-Tandanya apabila diberi ia senang, dan apabila tidak diberi ia marah.

5-Rasulullah r mendo’akan : “ celakalah dan tersungkurlah”.

6-Juga mendoakan : “jika terkena duri semoga ia tidak bisa mencabutnya”.

7-Pujian dan sanjungan untuk mujahid yang memiliki sifat sifat sebagaimana yang disebut dalam hadits.

 

 

BAB 38

MENTAATI ULAMA DAN UMARA DALAM MENGHARAMKAN YANG HALAL DAN MENGHALALKAN YANG HARAM BERARTI MEMPERTUHANKAN MEREKA

 

 

Ibnu Abbas t berkata :

” يوشك أن تنـزل عليكم حجارة من السماء، أقول : قال رسول الله r ، وتقولون : قال أبو بكر وعمر “.

“Aku khawatir bila kalian ditimpa hujan batu dari langit, karena aku mengatakan : “Rasulullah r bersabda”, tetapi kalian malah  mengatakan : “Abu Bakar dan Umar berkata”.”

 

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan : “Aku merasa heran pada orang-orang yang tahu tentang isnad hadits dan keshahehannya, tetapi mereka menjadikan pendapat  Sufyan sebagai acuannya, padahal Allah I telah berfirman :

] فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم [

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa siksa yang pedih” ( QS. An nur, 63 ).

 

Tahukah kamu apakah yang dimaksud dengan fitnah itu ? fitnah disitu maksudnya adalah syirik, bisa jadi apabila ia menolak sabda Nabi akan terjadi dalam hatinya kesesatan sehingga celakalah dia”.

 

Diriwayatkan dari ‘Ady bin Hatim bahwa ia mendengar Rasulullah r membaca firman Allah I :

] اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله [

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib rahib mereka sebagai tuhan tuhan selain Allah…”( QS. Al Bara’ah, 31)

 

Maka saya berkata kepada beliau : “Sungguh kami tidaklah menyembah mereka”, beliau bersabda :

” أليس يحرمون ما أحل الله فتحرمونه، ويحلون ما حرم الله فتحلونه ؟ فقلت : بلى، قال : فتلك عبادتهم، رواه أحمد والترمذي وحسنه.

“Tidakkah mereka mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, lalu kalian pun mengaharamkanya; dan tidakkah mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, lalu kalian menghalalkannya ?”, Aku menjawab : ya, maka beliau bersabda : “itulah bentuk penyembahan kepada mereka.” (HR. Imam Ahmad dan At Tirmidzi dengan menyatakan hasan )

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat dalam surat An nur ([11]).

2-Penjelasan tentang ayat dalam surat Bara’ah ([12])

3-Perlu diperhatikan arti ibadah yang sebelumnya telah diingkari oleh ‘Ady bin Hatim.

4-Pemberian contoh kasus yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas dengan menyebut nama Abu Bakar dan Umar, dan yang dikemukakan oleh Ahmad bin Hanbal dengan menyebut nama Sufyan.

5-Hal tersebut telah berkembang sedemikian rupa, sehingga banyak terjadi pada kebanyakan manusia penyembahan terhadap orang-orang sholeh, yang dianggapnya sebagai amal yang paling utama, dan dipercayainya sebagai wali [yang dapat mendatangkan suatu manfa’at atau mara bencana], serta penyembahan terhadap orang-orang alim melalui ilmu pengetahuan dan fiqh [dengan diikuti apa saja yang dikatakan, baik sesuai dengan firman Allah dan sabda RasulNya atau tidak].

kemudian hal ini berkembang lebih parah lagi, dengan adanya penyembahan terhadap orang-orang yang tidak sholeh, dan terhadap orang-orang bodoh yang tidak berilmu [dengan diikuti pendapat pendapatnya, bahkan bid’ah dan syirik yang mereka lakukan juga diikuti].

 

 

BAB 39

[BERHAKIM KEPADA SELAIN ALLAH  DAN RASULNYA]

 

Firman Allah I :

] ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك يريدون أن يتحاكموا إلى الطاغـوت وقد أمروا أن يكفروا بـه ويريد الشيطان أن يضلهم ضلالا بعيدا وإذا قيل لهم تعالوا إلى ما أنزل الله وإلى الرسول رأيت المنافقين يصدون عند صدودا فكيف إذا أصابتهم مصيبة بما قدمت أيديهم ثم جاءوك يحلفون بالله إن أردنا إلا إحسانا وتوفيقا [.

“Tidakkah  kamu memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada Thoghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Thoghut itu, dan syetan bermaksud menyesatkan mereka ( dengan ) penyesatan yang sejauh jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu ( tunduk ) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, sincaya kamu lihat orang-orang munafik itu menghalangi ( manusia ) dari ( mendekati ) kamu dengan sekuat kuatnya. Maka bagaimanakah halnya, apabila mereka ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu seraya bersumpah : “Demi Allah, sekali kali kami tidak menghendaki selain penyelesain yang baik dan perdamaian yang sempurna. ” ( QS. An nisa, 60 ).

] وإذا قيل لهم لا تفسدوا في الأرض قالوا إنما نحن مصلحون [.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka ( orang-orang munafik ) : “janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi” ([13]), mereka menjawab : “sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan” ( QS. Al baqarah, 11 ).

 

] ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها [.

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi ini sesudah Allah memperbaiki” ( QS. Al A’raf, 56 ).

 

] أ فحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون [

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan tidak ada yang lebih baik hukumnya daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin” ( QS. Al Maidah, 50 )

 

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar t sesungguhnya Rasulullah r bersabda :

” لا يؤمن أحدكم حتى يكون هواه تبعا لما جئت به “.

“Tidaklah beriman ( dengan sempurna) seseorang diantara kamu, sebelum  keinginan dirinya mengikuti apa yang telah aku bawa (dari Allah)” ( Imam Nawawi menyatakan hadits ini shoheh ).

As Sya’by menuturkan : “pernah terjadi pertengkaran antara orang munafik dan orang yahudi. Orang yahudi itu berkata : “Mari kita  berhakim kepada Muhammad”, karena ia mengetahui bahwa bahwa beliau tidak menerima suap. Sedangkan orang munafik tadi berkata : “Mari kita berhakim kepada orang yahudi”, karena ia tahu bahwa mereka mau menerima suap. Maka bersepakatlah keduanya untuk berhakim kepada seorang dukun di Juhainah, maka turunlah ayat :

ألم تر إلى الذين يزعمون … الآية

Ada pula yang menyatakan bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan dua orang yang bertengkar, salah seorang dari mereka berkata : “Mari kita bersama-sama mengadukan kepada Nabi Muhammad r, sedangkan yang lainnya mengadukan kepada Ka’ab bin Asyraf”, kemudian keduanya mengadukan perkara mereka kepada Umar t. Salah seorang di antara keduanya  menjelaskan kepadanya tentang permasalahan yang terjadi, kemudian Umar bertanya kepada orang yang tidak rela dengan keputusan Rasulullah r : “Benarkah demikian ?”,  ia menjawab : “Ya, benar”. Akhirnya dihukumlah orang itu oleh Umar dengan dipancung pakai pedang.

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat An Nisa’ ([14]), yang didalamnya terdapat keterangan yang bisa membantu untuk  memahami makna Thoghut.

2-Penjelasan tentang ayat yang ada dalam surat Al Baqarah ([15]).

3-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Al A’raf ([16])

4-Penjelasan tentang ayat yang  ada dalam surat Al Ma’idah ([17]).

5-Penjelasan As Sya’by tentang sebab turunnya ayat yang pertama ( yang terdapat dalam surat An Nisa’ ).

6-Penjelasan tentang iman yang benar dan iman yang palsu [ Iman yang benar, yaitu : berhakim kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah, dan iman  yang  palsu yaitu : mengaku beriman tetapi tidak mau berhakim kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah, bahkan berhakim kepada thaghut ].

7-Kisah Umar dengan orang munafik [ bahwa Umar memenggal leher orang munafik tersebut, karena dia tidak rela dengan keputusan Rasulullah r]

8-Seseorang tidak akan beriman ( sempurna dan benar ) sebelum keinginan dirinya mengikuti tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah r.

 

 

BAB 40

MENGINGKARI SEBAGIAN

NAMA DAN SIFAT ALLAH

 

Firman Allah I :

] وهم يكفرون بالرحمن قل هو ربي لا إله إلا هو عليه توكلت وإليه متاب [

“Dan mereka kafir ( ingkar ) kepada Ar Rahman ( Dzat Yang Maha Pengasih ).  Katakanlah : “Dia adalah Tuhanku, tiada sesembahan yang hak selain dia, hanya kepada Nya aku bertawakkal dan hanya kepadaNya aku bertaubat.” ( QS. Ar Ra’d, 30 )

 

Diriwayatkan dalam shaheh Bukhari, bahwa Ali bin Abi Thalib t berkata :

” حدثوا الناس بما يعرفون، أتريدون أن يكذب الله ورسوله ؟ “.

“Berbicaralah kepada orang-orang dengan apa yang difahami oleh mereka, apakah kalian menginginkan Allah dan RasulNya didustakan ?”.

 

Abdur Razak meriwayatkan dari Ma’mar dari Ibnu Thowus dari bapaknya dari Ibnu Abbas, bahwa ia melihat seseorang terkejut ketika mendengar hadits Nabi Muhammad r yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah I, karena merasa keberatan dengan hal tersebut, maka Ibnu Abbas berkata :

“ما فرق هؤلاء ؟ يجدون رقة عند محكمه ويهلكوه عند متشابه”.

“Apa yang dihawatirkan oleh mereka itu ? mereka mau mendengar dan menerima ketika dibacakan ayat-ayat yang muhkamat ( jelas pengertiannya ), tapi mereka keberatan untuk menerimanya ketika dibacakan ayat ayat yang mutasyabihat ( sulit difahami ) [18].

 

Orang-orang Quraisy ketika mendengar Rasulullah r menyebut “Ar Rahman”, mereka mengingkarinya, maka terhadap mereka itu, Allah I menurunkan firmanNya :  [ وهم يكفرون بالرحمن ] “Dan mereka kafir terhadap Ar Rahman”.

 

 

Kandungan bab ini :

1-Dinyatakan tidak beriman, karena mengingkari (menolak) sebagian dari Asma’ dan Sifat Allah.

2-Penjelasan tentang ayat yang terdapat dalam surat Ar Ra’d([19]).

3-Tidak dibenarkan menyampaikan kepada manusia hal-hal  yang tidak difahami oleh mereka.

 

 

4-Hal itu disebabkan karena bisa mengakibatkan Allah dan RasulNya didustakan, meskipun ia tidak bermaksud demikian.

5-Ibnu Abbas t menolak sikap orang yang merasa keberatan ketika dibacakan sebuah hadits yang berkenaan dengan sifat Allah dan menyatakan bahwa sikap tersebut bisa mencelakakan dirinya.

 

BAB 41

[INGKAR TERHADAP NI’MAT ALLAH]

 

Firman Allah I :

] يعرفون نعمة الله ثم ينكرونها [

“Mereka mengetahui ni’mat Allah (tetapi) kemudian mereka mengingkarinya…” ( QS. An Nahl, 83 ).

 

Dalam menafsiri ayat di atas Mujahid mengatakan bahwa maksudnya adalah kata-kata seseroang : “Ini adalah harta kekayaan yang aku  warisi dari nenek moyangku.”

Aun bin Abdullah mengatakan : “Yakni kata mereka ‘kalau bukan karena fulan, tentu tidak akan menjadi begini’.”

Ibnu Qutaibah berkata, menafsiri ayat di atas : “mereka mengatakan : ini adalah sebab syafa’at sembahan sembahan kami”.

Abul Abbas ([20]) – setelah mengupas hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Kholid yang didalamnya terdapat sabda Nabi : “sesungguhnya Allah berfirman : “pagi ini sebagian hambaku ada yang beriman kepadaku dan ada yang kifir …, sebagaimana yang telah disebutkan di atas – [21] ia mengatakan :

“Hal ini banyak terdapat dalam Al qur’an maupun As sunnah, Allah I mencela orang yang menyekutukanNya dengan menisbatkan ni’mat yang telah diberikan kepada selainNya”.

Sebagian ulama salaf mengatakan : “yaitu seperti ucapan mereka : anginnya bagus, nahkodanya cerdik pandai, dan sebagainya, yang bisa muncul dari ucapan banyak orang.

 

Kandungan  bab ini :

1-Penjelasan tentang firman Allah yang terdapat dalam surat An Nahl, yang menyatakan adanya banyak orang yang mengetahui ni’mat Allah tapi mereka mengingkarinya.

2-Hal itu sering terjadi dalam ucapan banyak orang. [karena itu harus dihindari].

3-Ucapan seperti ini dianggap sebagai pengingkaran terhadap ni’mat Allah.

5-Adanya dua hal yang kontradiksi ( mengetahui ni’mat Allah dan mengingkarinya ), bisa terjadi dalam diri manusia.

 

 

BAB 42

[LARANGAN MENJADIKAN SEKUTU BAGI ALLAH.]

 

 

Firman Allah I :

] فلا تجعلوا لله أندادا وأنتم تعلمون [

“Maka janganlah kamu membuat sekutu untuk Allah padahal kamu  mengetahui  (bahwa Allah adalah maha Esa) ” ( QS. Al Baqarah, 22 ).

 

Ibnu Abbas t dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan : “membuat sekutu untuk Allah adalah perbuatan syirik, suatu perbuatan dosa yang lebih sulit untuk dikenali dari pada semut kecil yang merayap di atas batu hitam, pada malam hari yang gelap gulita. Yaitu  seperti ucapan anda : ‘demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan, juga demi hidupku’, Atau seperti ucapan : ‘kalau bukan karena anjing ini, tentu kita didatangi pencuri pencuri itu’, atau seperti ucapan : ‘kalau bukan karena angsa yang dirumah ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri tersebut’, atau seperti ucapan seseorang kepada kawan-kawannya : ‘ini terjadi karena kehendak Allah dan kehendakmu’, atau seperti ucapan seseorang : ‘kalaulah bukan karena Allah dan fulan’.

Oleh karena itu, janganlah anda menyertakan “ si fulan ” dalam ucapan-ucapan diatas, karena bisa menjatuhkan anda kedalam kemusyrikan.” ( HR. Ibnu Abi Hatim )

 

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab t, bahwa Rasulullah r bersabda :

” من حلف بغير الله فقد كفر أو أشرك” رواه الترمذي وحسنه وصححه الحاكم.

“Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kemusyrikan” ( HR. Turmudzi, dan ia nyatakan sebagai hadits hasan, dan dinyatakan oleh Al Hakim shoheh).

 

Dan Ibnu Mas’ud t berkata :

” لأن أحلف بالله كاذبا أحب إلي من أن أحلف بغيره صادقا “

“sungguh bersumpah bohong dengan menyebut nama Allah, lebih Aku sukai daripada bersumpah jujur tetapi dengan menyebut nama selainNya.”

 

Diriwayatkan dari Hudzaifah t bahwa Rasulullah r bersabda :

” لا تقولوا ما شاء الله وشاء فلان، ولكن قولوا ما شاء الله ثم شاء فلان ” رواه أبو داود بسند صحيح.

“Janganlah kalian mengatakan : ‘atas kehendak Allah dan kehendak si fulan’, tapi katakanlah : ‘atas kehendak Allah kemudian atas kehendak si fulan’.” ( HR. Abu Daud dengan sanad yang baik ).

Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha’i bahwa ia melarang  ucapan : “Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu”, tetapi ia memperbolehkan ucapan : “Aku berlindung kepada Allah, kemudian kepadamu”, serta ucapan : ‘kalau bukan karena Allah kemudian karena si fulan’, dan ia tidak memperbolehkan ucapan : ‘kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang maksud “membuat sekutu untuk Allah”.

2-Penjelasan para sahabat bahwa ayat-ayat yang  diturunkan oleh Allah yang berkaitan dengan syirik akbar itu mencakup juga tentang syirik ashghor ( kecil ).

3-Bersumpah dengan menyebut nama selain Allah adalah syirik.

4-Bersumpah menggunakan nama selain Allah walaupun dalam kebenaran, itu lebih besar dosanya daripada sumpah palsu dengan menggunakan nama Allah.

5-Ada perbedaan yang jelas sekali antara ( و ) yang berarti “ dan ” dengan ( ثم ) yang berarti “ kemudian”.

 

 

BAB 43

ORANG YANG TIDAK RELA TERHADAP SUMPAH

YANG MENGGUNAKAN NAMA ALLAH

 

Diriwayatkan dari Ibnu Umar t, bahwa Rasulullah r bersabda :

” لا تحلفوا بآبائكم، من حلف بالله فليصدق, ومن حلف له بالله فليرض، ومن لم يرض فليس من الله ” رواه ابن ماجة بسند حسن.

“Janganlah kalian bersumpah dengan nama nenek moyang kalian! Barangsiapa yang bersumpah dengan nama Allah, maka hendaknya ia jujur, dan barangsiapa yang diberi sumpah dengan nama Allah maka hendaklah ia rela (menerimanya), barangsiapa yang tidak rela menerima sumpah tersebut maka lepaslah ia dari  Allah I” ( HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan ).

 

Kandungan bab ini :

1-larangan bersumpah dengan menyebut nama nenek moyang.

2-Diperintahkan kepada orang yang diberi sumpah dengan menyebut nama Allah untuk rela menerimanya.

3-Ancaman bagi orang-orang yang tidak rela menerimanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 44

UCAPAN SESEORANG :

“ ATAS KEHENDAK ALLAH DAN KEHENDAKMU ”

 

Qutaibah t berkata :

” أن يهوديا أتى النبي r، فقال : إنكم تشركون تقولون : ما شاء الله وشئت، وتقولون : والكعبة، فأمرهم النبي r إذا أرادوا أن يحلفوا أو يقولوا : ” ورب الكعبة “، وأن يقولوا : ” ما شاء الله ثم شئت ” رواه النسائي وصححه.

“Bahwa ada seorang yahudi datang kepada Rasulullah r, lalu berkata : “Sesungguhnya kamu sekalian telah melakukan perbuatan syirik, kalian mengucapkan: ‘atas kehendak Allah dan kehendakmu’ dan mengucapkan : ‘demi Ka’bah’, maka Rasulullah memerintahkan para sahabat apabila hendak bersumpah supaya mengucapkan : ‘demi Rabb Pemilik ka’bah’, dan mengucapkan : ‘atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu’. ( HR. An Nasai dan ia nyatakan sebagai hadits shoheh ).

 

Ibnu Abbas t menuturkan :

” أن رجلا قال للنبي r :” ما شاء الله وشئت “، فقال : أجعلتني لله ندا ؟ ما شاء الله وحده “.

“Bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad r : ‘atas kehendak Allah dan kehendakmu’, maka Nabi bersabda : “apakah kamu telah menjadikan diriku  sekutu bagi Allah ? hanya atas kehendak Allah semata”.

 

Diriwayatkan oleh Ibnu majah, dari At Thufail saudara seibu Aisyah, ra. ia berkata :

“Aku bermimpi seolah-olah aku mendatangi sekelompok orang orang yahudi, dan aku berkata kepada mereka : ‘Sungguh kalian adalah sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan : Uzair putra Allah’. Mereka menjawab : ‘Sungguh kalian juga sebaik baik kaum jika kalian tidak mengatakan : ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad’. Kemudian aku melewati sekelompok orang orang Nasrani, dan aku berkata kepada mereka : ‘Sungguh kalian adalah sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan : ‘Al Masih putra Allah’. Mereka pun balik berkata : ‘Sungguh kalian juga sebaik-baik kaum jika kalian tidak mengatakan : ‘Atas kehendak Allah dan Muhammad’. Maka pada keesokan harinya aku memberitahukan mimpiku tersebut kepada kawan-kawanku, setelah itu aku mendatangi Nabi Muhammad r, dan aku beritahukan hal itu kepada beliau. Kemudian Rasul bersabda : “Apakah engkau telah memberitahukannya kepada seseorang ?, aku manjawab : ‘ya’. Lalu Rasulullah r bersabda yang diawalinya dengan memuji nama Allah I :

” أما بعد، فإن طفيلا رأى رؤيا أخبر بها من أخبر منكم، وإنكم قلتم كلمة كان يمنعني كذا وكذا أن أنهاكم عنها، فلا تقولوا : ما شاء الله وشاء محمد، ولكن قولوا : ما شاء الله وحده “.

“Amma ba’du, sesungguhnya Thufail telah bermimpi tentang sesuatu, dan telah diberitahukan kepada sebagian orang dari kalian. Dan sesunguhnya kalian telah mengucapkan suatu ucapan yang ketika itu saya tidak sempat melarangnya, karena aku disibukkan dengan urusan ini dan itu, oleh karena itu, janganlah kalian mengatakan : ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad’, akan tetapi ucapkanlah : ‘Atas kehendak Allah semata’.”

 

Kandungan  bab ini :

1-Hadits di atas menunjukkan bahwa  orang yahudi pun mengetahui tentang perbuatan yang disebut syirik ashghor.

2-Pemahaman seseorang akan kebenaran tidak menjamin ia untuk menerima dan melaksanakannya, apabila ia dipengaruhi oleh hawa nafsunya. [sebagaimana orang-orang yahudi tadi, dia mengerti kebenaran, tetapi dia tidak mau mengikuti kebenaran itu, dan tidak mau beriman kepada Nabi yang membawanya].

3-Sabda Rasulullah r : “Apakah engkau menjadikan diriku sekutu bagi Allah ?” sebagai bukti adanya penolakan terhadap orang-orang yang mengatakan kepada beliau : ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, jika demikian sikap beliau, lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengatakan :

” يا أكرم الخلق ما لي ألوذ به         سواك … “

“Wahai makhluk termulia, tak ada seorangpun bagiku sebagai tempatku berlindung kecuali engkau ..” dan dua bait selanjutnya.

4-Ucapan seseorang : “atas kehendak Allah dan kehendakmu”  termasuk syirik ashghor, tidak termasuk syirik akbar , karena beliau bersabda : “kalian telah mengucapkan suatu ucapan yang karena kesibukanku dengan ini dan itu aku tidak sempat melarangnya”.

5-Mimpi yang baik termasuk  bagian dari wahyu.

6-Mimpi kadang menjadi sebab disyariatkannya suatu hukum.

 

 

BAB 45

BARANG SIAPA MENCACI MASA

MAKA DIA TELAH MENYAKITI  ALLAH

 

Firman Allah I :

] وقالوا ما هي إلا حياتنا الدنيا نموت ونحيا وما يهلكنا إلا الدهر  وما لهم بذلك من علم إن هم إلا يظنون [

“Dan berkata mereka : ‘Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita kesuali masa, dan mereka sekali kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” ( QS. Al Jatsiah, 24 ).

 

Diriwayatkan dalam shoheh Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda :

” قال الله تعالى : يؤذيني ابن آدم، يسب الدهر، وأنا الدهر أقلب الليل والنهار” وفي رواية : ” لا تسبوا الدهر فإن الله هو الدهر “.

“Allah I berfirman : “Anak adam ( manusia ) menyakiti Aku, mereka mencaci masa, padahal  Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Akulah yang menjadikan malam dan siang silih berganti”. Dan dalam riwayat yang lain dikatakan : “janganlah kalian mencaci masa, karena Allah I adalah Pemilik dan Pengatur masa.” ([22]).

 

Kandungan bab ini :

1-Larangan mencaci masa.

2-Mencaci masa berarti  menyakiti Allah I.

3-Perlu renungan akan sabda Nabi r : “Karena Allah sesungguhnya  adalah Pemilik dan Pengatur masa” ([23]).

4-Mencaci mungkin saja dilakukan seseorang, meskipun ia tidak bermaksud demikian dalam hatinya.

 

BAB 46

PENGGUNAAN GELAR “ QODLI QUDLOT ”

( HAKIMNYA PARA HAKIM ) DAN SEJENISNYA

 

 

Diriwayatkan dalam shoheh Bukhori dan Muslim, dari Abu Hurairah t bahwa Rasulullah r bersabda :

” إن أخنع اسم عند الله رجل تسمى ملك الأملاك، لا مالك إلا الله ” – قال سفيان : مثل شاهان شاه – وفي رواية : ” أغيظ رجل على الله يوم القيامة وأخبثه “.

“Sesungguhnya nama ( gelar ) yang paling hina  di sisi Allah I adalah “ Rajanya para raja ”, tiada raja yang memiliki kekuasaan mutlak kecuali Allah ” – Sufyan[24]  mengemukakan contoh dengan berkata : ‘seperti gelar syahan syah’ – , dan dalam riwayat yang lain dikatakan : “Dia adalah orang yang paling dimurkai dan paling jahat  di sisi Allah pada hari kiamat … ”

 

Kandungan bab ini :

1-Larangan menggunakan gelar “ Rajanya para raja ”.

2-Larangan menggunakan gelar lain yang sejenis dengan gelar diatas, seperti contoh yang dikemukakan oleh Sufyan “Syahan syah ”.

3-Hal itu dilarang, [karena ada  pensejajaran antara hamba dengan Kholiqnya] meskipun hatinya tidak bermaksud demikian.

4-Larangan ini tidak lain hanyalah  untuk mengagungkan Allah U.

 

BAB 47

MEMULIAKAN NAMA-NAMA ALLAH

DAN MENGGANTI  NAMA UNTUK TUJUAN INI

 

Diriwayatkan dari Abu Syaraih bahwa ia dulu diberi kunyah (sebutan, nama panggilan ) “Abul Hakam”, Maka Nabi r bersabda kepadanya :

” إن الله هو الحكم، وإليه الحكم، فقال : إن قومي إذا اختلفوا في شيء أتوني فحكمت بينهم، فرضي كلا الفريقين، فقال : ما أحسن هذا، فما لك من الولد ؟ قلت : شريح، ومسلم، وعبد الله، قال : فمن أكبرهم ؟ قلت : شريح، قال : فأنت أبو شريح” رواه أبو داود وغيره.

“Allah I adalah Al Hakam, dan hanya kepadaNya segala permasalahan dimintakan keputusan hukumnya”, kemudian ia berkata kepada Nabi r : “Sesungguhnya kaumku apabila  berselisih pendapat dalam suatu masalah mereka mendatangiku, lalu aku memberikan keputusan hukum di antara mereka, dan kedua belah pihak pun sama sama menerimanya”, maka Nabi bersabda : “Alangkah baiknya hal ini, apakah kamu punya anak ?” aku  menjawab : “Syuraih,  Muslim dan Abdullah”, Nabi bertanya : “siapa yang tertua diantara mereka ? “Syuraih” jawabku, Nabi bersabda : “kalau demikian kamu Abu Syuraih”. ( HR. Abu Daud dan ahli hadits  lainnya ).

 

Kandungan  bab ini :

1-Wajib memuliakan Nama dan Sifat Allah [dan dilarang  menggunakan nama atau kunyah yang ma’nanya sejajar dengan nama Allah ] walaupun tidak bermaksud demikian.

2-Dianjurkan mengganti nama yang kurang baik untuk memuliakan Nama Allah.

3-Memilih nama anak yang tertua untuk kunyah ( nama panggilan).

 

 

BAB 48

BERSENDA GURAU DENGAN MENYEBUT NAMA ALLAH, ALQUR’AN ATAU RASULULLAH r.

 

 

Firman Allah I :

] ولئن سألتهم ليقولن إنما كنا نخوض ونلعب قل أبالله وأياته ورسوله كنتم تستهزؤون لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم [

“Dan jika kamu tanyakan kepada orang-orang munafik ( tentang apa yang mereka lakukan ) tentulah mereka akan menjawab : ‘sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain main saja’, katakanlah : ‘apakah dengan Allah, ayat ayat Nya dan RasulNya kalian selalu berolok-olok ?’, tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman…” ( QS. At taubah, 65 – 66 ).

 

Diriwayatkan dari Ibnu Umar t, Muhammad bin Kaab, Zaid bin Aslam, dan Qatadah, suatu hadits dengan rangkuman sebagai berikut :  “Bahwasanya ketika dalam peperangan tabuk, ada seseorang yang berkata : “Belum pernah kami melihat seperti para ahli membaca Alqur’an (qurra’) ini, orang yang lebih buncit perutnya, dan lebih dusta mulutnya, dan lebih pengecut dalam peperangan”, maksudnya adalah Rasulullah r dan para sahabat yang ahli membaca Al Qur’an. Maka berkatalah Auf bin Malik kepadanya: “kau pendusta, kau munafik, aku beritahukan hal ini kepada Rasulullah r”, lalu berangkatlah Auf bin Malik kepada Rasulullah untuk memberitahukan hal ini kepada beliau, akan tetapi sebelum ia sampai , telah turun wahyu kepada beliau.

Dan ketika orang itu datang kepada Rasulullah r, beliau sudah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya,  maka berkatalah ia kepada Rasulullah : “ya Rasulullah, sebenarnya kami hanya bersenda gurau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang yang mengadakan perjalanan untuk menghilangkan penatnya perjalanan”, kata Ibnu Umar : “sepertinya aku melihat orang tadi berpegangan sabuk pelana unta Rasulullah, sedang kedua kakinya tersandung-sandung batu, sambil berkata : “kami hanyalah bersenda gurau dan bermain main saja”, kemudian Rasulullah bersabda  kepadanya :

” أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزؤون “

“Apakah dengan Allah, ayat-ayat Nya, dan RasulNya kamu selalu berolok olok ”.

Rasulullah r mengatakan seperti itu tanpa menengok, dan tidak bersabda kepadanya lebih dari pada itu.

 

 

Kandungan  bab ini :

1-Masalah yang sangat penting sekali, bahwa orang yang bersenda gurau dengan menyebut nama Allah, ayat ayat Nya dan RasulNya adalah kafir.

2-Ini adalah penafsiran dari ayat diatas, untuk orang yang melakukan perbuatan itu, siapapun dia.

3-Ada perbedaan yang sangat jelas antara menghasut dan setia  Allah dan RasulNya. [dan melaporkan perbuatan orang orang fasik kepada waliyul amr untuk mencegah mereka, tidaklah termasuk perbuatan menghasut tetapi termasuk kesetiaan kepada Allah dan kaum muslimin seluruhnya].

4-Ada perbedaan yang cukup jelas antara sikap memaafkan yang dicintai Allah dengan bersikap tegas terhadap musuh musuh Allah.

5-Tidak setiap permintaan maaf dapat diterima. [ada juga permintaan maaf yang harus ditolak].

 

 

BAB 49

[MENSYUKURI NI’MAT ALLAH]

 

Firman Allah I :

] ولئن أذقناهم رحمة منا بعد ضراء مسته ليقولن هذا لي [

“Dan jika kami melimpahkan kepadanya sesuatu rahmat dari kami, sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata “ini adalah hakku” ( QS. Fushshilat, 50 ).

 

Dalam menafsirkan ayat ini Mujahid mengatakan : “ini adalah karena jerih payahku, dan akulah yang berhak memilikinya ”.

Sedangkan Ibnu Abbas mengatakan : “ini adalah dari diriku sendiri”.

 

Firman Allah I :

] قال إنما أوتيته على علم عندي [

“(Qarun) berkata : sesungguhnya aku diberi harta kekayaan ini, tiada lain karena ilmu yang ada padaku ”( QS. Al Qashash, 78 )

 

Qotadah – dalam menafsirkan ayat ini – mengatakan: “Maksudnya : karena ilmu pengetahuanku tentang cara cara berusaha”.

Ahli tafsir lainnya mengatakan : “Karena Allah mengetahui bahwa aku orang yang layak menerima harta kekayaan itu”, dan inilah makna yang dimaksudkan oleh Mujahid : “aku diberi harta kekayaan ini atas kemulianku”.

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah t bahwa ia mendengar Rasulullah r bersabda :

” إن ثلاثة من بني إسرائيل : أبرص وأقرع وأعمى، فأراد الله أن يبتليهم، فبعث إليهم ملكا، فأتى الأبرص، فقال : أي شيء أحب إليك ؟ قال : لون حسن، وجلد حسن، ويذهب عني الذي قذرني الناس به، قال : فمسحه، فذهب عنه قذره، فأعطي لونا حسنا وجلدا حسنا، قال : فأي المال أحب إليك ؟ قال : الإبل أو البقر – شك إسحاق – فأعطي ناقة عشراء، فقال : بارك الله لك فيها، قال : فأتى الأقرع، فقال : أي شيء أحب إليك ؟ قال : شعر حسن، ويذهب عني الذي قذرني الناس به، فمسحه فذهب عنه قذره، وأعطي شعرا حسنا، فقال : أي المال أحب إليك ؟ قال : البقر أو الإبل، فأعطي بقرة حاملا، قال : بارك الله لك فيها، فأتى الأعمى، فقال : أي شيء أحب إليك ؟ قال : أن يرد الله إلي بصري فأبصر به الناس، فمسحه فرد الله إليه بصره، قال : فأي المال أحب إليك ؟ قال : الغنم، فأعطي شاة والدا، فأنتج هذان وولد هذا، فكان لهذا واد من الإبل، ولهذا واد من البقرن ولهذا واد من الغنم.

“Sesungguhnya ada tiga orang dari bani Israil, yaitu : penderita penyakit kusta, orang berkepala botak, dan orang buta. Kemudian Allah I ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kusta dan bertanya kepadanya : “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan ?”, ia menjawab : “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikan banyak orang ini hilang dari diriku”. Maka  diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah,  kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya : “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi ?”, ia menjawab : “onta atau sapi”, maka diberilah ia seekor onta yang sedang bunting, dan iapun didoakan : “Semoga Allah memberikan berkahNya kepadamu dengan onta ini.”

Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya : “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan ?”,  ia menjawab : “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikan dikepalaku ini hilang”, maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah, kemudian melaikat tadi bertanya lagi kepadanya : “Harta apakah yang kamu senangi ?”. ia menjawab : “sapi atau onta”, maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting, seraya didoakan : “  Semoga Allah memberkahimu dengan sapi ini.”

Kemudian melaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya : “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan ?”, ia menjawab : ‘Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang”, maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya, kemudian melaikat itu bertanya lagi kepadanya : “Harta apakah yang paling kamu senangi ?”, ia menjawab : “kambing”, maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

Lalu berkembang biaklah onta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah onta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

 

Sabda nabi r berikutnya :

ثم إنه أتى الأبرص في صورته وهيئته، قال : رجل مسكين قد انقطعت بي الحبال في سفري، فلا بلاغ لي اليوم إلا بالله ثم بك، أسألك بالذي أعطاك اللون الحسن والجلد الحسن والمال، بعيرا أتبلغ به في سفري، فقال : الحقوق كثيرة، فقال له : كأني أعرفك ! ألم تكن أبرص يقذرك الناس، فقيرا فأعطاك الله U المال ؟ فقال: إنما ورثت هذا المال كابرا عن كابر، فقال : إن كنت كاذبا فصيرك الله إلى ما كنت. قال : وأتى الأقرع في صورته، فقال له : مثل ما قال لهذا، ورد عليه مثل ما رد عليه هذا، فقال : إن كنت كاذبا فصيرك الله إلى ما كنت. قال : وأتى الأعمى في صورته فقال : رجل مسكين وابن سبيل قد انقطعت بي الحبال في سفري، فلا بلاغ لي اليوم إلا بالله ثم بك، أسألك بالذي رد عليك بصرك شاة أتبلغ بها في سفري، فقال : قد كنت أعمى فرد الله إلي بصري، فخذ ما شئت، ودع ما شئت، فوالله لا أجهدك اليوم بشيء أخذته لله، فقال : أمسك مالك، فإنما ابتليتم، فقد رضي الله عنك وسخط على صاحبيك. أخرجاه.

Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang  yang sebelumnya menderita penyakit kusta, dengan menyerupai dirinya disaat ia masih dalam keadaan berpenyakit kusta, dan berkata kepadanya : “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini,  sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan yang banyak ini, aku minta kepada anda satu ekor onta saja untuk bekal meneruskan perjalananku”, tetapi permintaan ini ditolak dan dijawab : “Hak hak (tanggunganku)  masih banyak”, kemudian malaikat tadi berkata kepadanya : “Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dulu orang yang menderita penyakit lepra, yang mana orangpun sangat jijik melihat anda, lagi pula anda orang yang miskin, kemudian Allah memberikan kepada anda harta kekayaan ?”, dia malah menjawab : “Harta kekayaan ini warisan dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat”,  maka malaikat tadi berkata kepadanya : “jika anda berkata dusta niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya disaat masih botak, dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakita lepra, serta ditolaknya pula permintaanya sebagaimana ia ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata : “jika anda berkata bohong niscaya Allah akan mengembalikan anda seperti keadaan semula”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu disaat ia masih buta, dan berkata kepadanya : “Aku adalah orang yang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga kau tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku”. Maka orang itu menjawab : “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, saya tidak akan mempersulit anda dengan mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah”. Maka malaikat tadi berkata : “ Peganglah harta kekayaan anda, karena sesungguhnya engkau ini hanya diuji oleh Allah I, Allah telah ridla kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda” ( HR. Bukhori dan Muslim ).

 

Kandungan bab ini :

1-Penjelasan tentang ayat di atas ([25]).

2-Pengertian firman Allah : “… Pastilah ia berkata : ini adalah hakku”.

3-Pengertian firman Allah : “sesungguhnya aku diberi kekayaan ini tiada lain kerena ilmu yang ada padaku”.

4-Kisah menarik,  sebagaimana yang terkandung dalam hadits ini, memuat pelajaran pelajaran yang berharga dalam kehidupan ini.

 

 

BAB 50

[NAMA YANG DIPERHAMBAKAN KEPADA SELAIN ALLAH]

 

 

Firman Allah I :

] فلما آتاهما صالحا جعلا له شركاء فيما آتاهما فتعالى الله عما يشركون [.

“Ketika Allah mengaruniakan kepada mereka seorang anak laki laki yang sempurna ( wujudnya ), maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah dalam hal ( anak ) yang dikaruniakan kepada mereka, maha suci Allah dari perbuatan syirik mereka ” ( QS. Al A’raf, 190 ).

 

Ibnu Hazm berkata : “Para ulama telah sepakat  mengharamkan setiap nama yang diperhambakan kepada selain Allah, seperti : Abdu Umar ( hambanya umar ), Abdul Ka’bah ( hambanya ka’bah ) dan yang sejenisnya, kecuali Abdul Muthalib. ([26])”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas t dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan : “Setelah Adam menggauli istrinya Hawwa, ia pun hamil, lalu iblis mendatangi mereka berdua seraya berkata : “Sungguh, aku adalah kawanmu berdua yang telah mengeluarkan kalian dari sorga. Demi Allah, hendaknya kalian mentaati aku, jika tidak maka akan aku jadikan anakmu bertanduk dua seperti rusa, sehingga akan keluar dari perut istrimu dengan merobeknya, demi Allah, itu pasti akan ku lakukan ”, itu yang dikatakan iblis dalam menakut nakuti mereka berdua, selanjutnya iblis berkata : “Namailah anakmu dengan Abdul harits [27]”. Tapi keduanya menolak untuk mentaatinya, dan ketika bayi itu lahir, ia lahir dalam keadaan mati. kemudian Hawwa hamil lagi, dan datanglah iblis itu dengan mengingatkan apa yang pernah dikatakan sebelumnya. Karena Adam dan Hawwa cenderung lebih mencintai keselamatan anaknya, maka ia memberi nama anaknya dengan “ Abdul Harits ”, dan itulah penafsiran firman Allah I :  [ جعلا له شركاء فيما آتاهما  ].

 

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan pula, dengan sanad yang shaheh, bahwa Qotadah dalam menafsirkan ayat ini mengatakan : “Yaitu, menyekutukan Allah dengan taat kepada iblis, bukan dalam beribadah kepadanya ” ([28]).

Dan dalam menafsirkan firman Allah [  لئن آتيتنا صالحا ] yang artinya : “Jika engkau mengaruniakan anak laki-laki yang sempurna ( wujudnya)” ([29]),  Mujahid berkata : “Adam dan Hawwa khawatir kalau anaknya lahir tidak dalam wujud manusia ”, dan penafsiran yang senada ini diriwayatkannya pula dari Al Hasan (Al Basri), Said (Ibnu Jubair) dan yang lainnya.

 

Kandungan bab ini :

1-Dilarang memberi nama yang diperhambakan kepada selain Allah.

2-Penjelasan tentang maksud ayat di atas ([30]).

3-Kemusyrikan ini [sebagaimana dinyatakan oleh ayat ini] disebabkan hanya sekedar pemberian nama saja, tanpa bermaksud yang sebenarnya.

4-Pemberian anak perempuan dengan wujud yang sempurna merupakan ni’mat Allah [yang wajib disyukuri].

5-Ulama Salaf menyebutkan perbedaan antara kemusyrikan di dalam taat dan kemusyrikan di dalam beribadah.

 

BAB 51

[MENETAPKAN AL ASMA’ AL HUSNA HANYA UNTUK ALLAH DAN TIDAK MENYELEWENGKANNYA]

 

Firman Allah I :

] ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها وذروا الذين يلحدون في أسمائه سيجزون ما كانوا يعملون [

“Hanya milik Allah lah Al Asma’ Al Husna ( nama-nama yang baik ), maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut Asma Nya itu, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyelewengkan AsmaNya. Mereka nanti pasti akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. ” ( QS. Al A’raf, 180 ).

 

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari  Ibnu Abbas y tentang maksud  firman Allah [يلحدون في أسمائه   ] yang artinya : “menyelewengkan Asma Nya” ia mengatakan, bahwa maksudnya adalah : “berbuat syirik  ( dalam Asma Nya ), yaitu orang-orang yang menjadikan Asma-asma Allah untuk berhala mereka, seperti nama Al Lata yang berasal dari kata Al Ilah, dan Al Uzza dari kata Al Aziz ”.

Dan diriwayatkan dari Al A’masy ([31]) dalam menafsirkan ayat tersebut ia mengatakan: “Mereka memasukkan ke dalam Asma Nya nama nama yang bukan dari Asma Nya”.

 

Kandungan bab ini :

1-Wajib menetapkan Asma Allah [sesuai dengan keagungan dan kemuliaanNya].

2-Semua Asma Allah  adalah husna ( Maha Indah).

3-Diperintahkan untuk berdoa dengan menyebut Asma husnaNya.

4-Diperintahkan meninggalkan orang-orang yang menentang Asma asmaNya dan menyelewengkannya.

5-Penjelasan tentang bentuk penyelewengan Asma Allah.

6-Ancaman terhadap  orang-orang yang menyelewengkan Asma Al Husna Allah dari kebenaran.

 

 

BAB 52

LARANGAN MENGUCAPKAN

“ AS SALAMU ‘ALALLAH ”

 

 

Diriwayatkan dalam shaheh Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas t ia berkata :

كنا إذا كنا مع النبي r في الصلاة، قلنا : السلام على الله من عباده، السلام على فلان وفلان، فقال النبي r : لا تقولوا السلام على الله، فإن الله هو السلام.

“Ketika kami melakukan sholat bersama Nabi Muhammad r kami pernah mengucapkan :السلام على الله من عباده , dan mengucapkan: السلام على فلان وفلان   yang artinya : “semoga keselamatan untuk Allah dari hamba hambanya”, dan “ semoga keselamatan untuk sifulan dari sifulan”, maka Nabir bersabda : “janganlah kamu mengucapkan : السلام على الله  yang artinya “keselamatan semoga untuk Allah”, karena sesungguhnya Allah adalah السلام   ( Maha pemberi keselamatan ).

 

Kandungan  bab ini :

1-Penjelasan tentang makna Assalam ([32]).

2-السلام merupakan ucapan selamat.

3-Hal ini tidak sesuai untuk Allah.

4-Alasannya, [karena As Salam  adalah salah satu dari Asma’ Allah, Dialah yang memberi keselamatan, dan hanya kepadaNya kita memohon keselamatan.

5-Telah diajarkan kepada para sahabat tentang ucapan  penghormatan yang sesuai untuk Allah ([33]).


([1] )   Ayat ini menunjukkan bahwa merasa aman dari siksa adalah dosa besar yang harus dijauhi oleh orang mu’min.

([2] )   Ayat ini menunjukkan bahwa bersikap putus asa dari rahmat Allah termasuk pula dosa besar yang harus dijauhi. Dari kedua ayat ini dapat disimpulkan bahwa seorang mu’min harus memadukan antara dua sikap ; harap dan khawatir, harap akan rahmat Allah dan khawatir terhadap siksa Nya.

([3] )   ‘Al Qomah bin Qais bin Abdullah bin Malik An Nakhai, salah seorang tokoh dari ulama tabiin, dilahirkan pada masa hidup Nabi r dan meninggal tahun 62 H ( 681 M ).

([4] )   Ayat ini menunjukkan tentang keutamaan sabar atas segala takdir Allah yang pahit, seperti musibah ; dan menunjukkan bahwa amal termasuk dalam pengertian iman.

([5] )Riya’ adalah berbuat baik karena orang lain.

([6] )   Al Masih Ad Dajjal ialah seorang manusia pembohong terbesar yang akan muncul pada akhir zaman, mengaku sebagai Al Masih bahkan mengaku sebagai tuhan yang disembah. Kehadirannya di dunia ini termasuk diantara tanda tanda besar akan tibanya hari kiamat. Sedang keajaiban keajaiban yang bisa dilakukannya merupakan cobaan dari Allah I untuk umat manusia yang masih hidup pada masa itu. Disebutkan dalam shahih Muslim bahwa masa kemunculannya di dunia nanti selama 40 hari, di antara hari hari tersebut ; sehari bagaikan setahun, sehari bagaikan sebulan, sehari bagaikan seminggu, kemudian hari hari lainnya sebagaimana biasa ; atau  kalau kita jumlahkan sama dengan satu tahun dua bulan dua minggu. Hadits hadits tentang Ad Dajjal ini telah diriwayatkan oleh kalangan banyak sahabat, antara lain : Abu Bakar Ash Shiddiq, Abu Hurairah, Mu’adz bin Jabal, Jabir bin Abdillah, Abu SA’id Al Khudri, An Nawwas bin Sam’an, Anas bin Malik, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Aisyah, Ummu Salamah, Fatimah binti Qais dan lain lain. Masalah ini bisa dirujuk dalam :

-Shahih Bukhari : kitab Al fitan bab 26 –27 : kitab At Tauhid bab 27, 31.

-Shahih Muslim : kitab Al fitan bab 20, 21, 22, 23, 24, 25.

-Shahih At Turmudzi : kitab Al fitan bab 55, 56, 57,58, 59, 60,61,62.

-Sunan Abu Dawud : kitab malahim bab : 14, 15.

-Sunan Ibnu Majah : kitab Al Fitan bab 33.

-Musnad Imam Ahmad : jilid I hal 6, 7 ; jilid 2 hal : 33, 37, 67, 104, 124, 131 ; jilid 5 hal : 27, 32, 43, 47.

-Dan kitab kitab koleksi hadits lainnya.

([7] )   Ayat ini menunjukkan bahwa amal ibadah tidak akan diterima oleh Allah kecuali bila memenuhi dua syarat :

        pertama : ikhlas semata mata karena Allah, tidak ada syirik di dalamnya sekalipun syirik kecil seperti riya’.

        Kedua : sesuai dengan tuntunan Rasulullah r, karena suatu amal disebut shalih jika ada dasar perintahnya dalam agama.

        Ayat ini mengisyaratkan pula bahwa ibadah itu tauqifiyah, artinya berlandaskan pada ajaran yang dibawa Rasulullah r, tidak menurut akal maupun nafsu seseorang.

([8] )   Khamishah dan khamilah adalah pakaian yang terbuat dari wool atau sutera dengan diberi sulaman atau garis garis yang menarik dan indah. Maksud ungkapan Rasulullah r dengan sabdanya tersebut ialah untuk menunjukkan orang yang sangat ambisi dengan kekayaan duniawi, sehingga menjadi hamba harta benda. Mereka itulah orang orang yang celaka dan sengsara.

([9] )   Tidak diperkenankan dan tidak diterima perantaraanya, karena dia tidak mempunyai kedudukan atau pangkat dan tidak terkenal ; soalnya perbuatan dan amal yang dilakukannya diniati karena Allah semata.

([10] )  Ayat ini menjelaskan tentang hukum orang yang motivasinya hanya kepentingan dan keni’matan duniawi, dan akibat yang akan diterimanya baik di dunia maupun di akhirat nanti.

([11] )  Ayat ini mengandung suatu peringatan supaya kita jangan sampai menyalahi Kitab dan Sunnah.

([12] )  Ayat dalam surat At Taubah ini menunjukkan bahwa barang siapa mentaati seseorang dengan menyalahi hukum yang telah ditetapkan Allah berarti telah mengangkatnya sebagai tuhan selain Allah.

([13] )  Maksudnya : janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi dengan kekafiran dan perbuatan maksiat lainnya.

([14] )  Ayat ini menunjukkan kewajiban berhakim kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, dan menerima hukum keduanya dengan ridla dan tunduk. Barang siapa yang berhakim kepada selainnya, berarti berhakim kepada thagut, apapun sebutannya. Dan menunjukkan kewajiban mengingkari thaghut, serta menjauhkan diri dan waspada terhadap tipu daya syetan. Dan menunjukkan pula bahwa barangsiapa yang diajak berhakim dengan hukum Allah dan RasulNya haruslah menerima; apabila menolak maka dia adalah munafik, dan apapun dalih yang dikemukakan seperti menghendaki penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna bukanlah merupakan alasan baginya untuk menerima selain hukum Allah dan RasulNya.

([15] )  Ayat ini menunjukkan bahwa barangsiapa yang mengajak berhukum kepada selain hukum yang diturunkan Allah, maka ia telah berbuat kerusakan yang sangat berat di muka bumi, dan dalih mengadakan perbaikan bukan alasan sama sekali untuk meninggalkan hukumNya ; menunjukkan pula bahwa orang yang sakit hatinya akan memutar balikkan nilai nilai, di mana yang hak dijadikan batil dan yang batil dijadikan hak.

([16] )  Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang mengajak berhukum kepada selain hukum Allah, maka ia telah berbuat kerusakan yang sangat berat di muka bumi, dan menunjukkan bahwa perbaikan di muka bumi adalah dengan menerapkan hukum yang diturunkan Allah.

([17] )  Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang menghendaki salain hukum Allah, berarti ia menghendaki hukum jahiliyah.

([18] )  Perkataan Ibnu Abbas disebutkan penulis setelah perkataan Ali yang menyatakan bahwa seyogyanya tidak usah dituturkan kepada orang-orang apa yang tidak mereka mengerti, adalah untuk menunjukkan bahwa nash nash Al Qur’an maupun hadits yang berkenaan sifat Allah tidak termasuk hal tersebut, bahkan perlu pula disebutkan dan ditegaskan, karena keberatan sebagian orang akan hal tersebut bukanlah menjadi factor penghalang untuk menyebutkannya, sebab para ulama semenjak zaman dahulu masih membacakan ayat ayat dan hadits hadits yang berkenaan dengan sifat Allah di hadapan orang orang umum maupun khusus.

([19] )  Ayat ini menunjukkah kewajiban mengimani segala Asma’ dan Sifat Allah, dan mengingkari sesuatu darinya adalah kufur.

([20] )Abu Al Abbas Ibnu Taimiyah.

([21] )Telah disebutkan pada bab 30

([22] )  Orang-orang Jahiliyah, kalau mereka tertimpa suatu musibah, bencana atau mala petaka, mereka mencaci masa. Maka Allah melarang hal tersebut, karena yang menciptakan dan mengatur masa adalah Allah Yang Maha Esa. Sedangkan menghina pekerjaan seseorang berarti menghina orang yang melakukannya. Dengan demikian, mencaci masa berarti mencela dan menyakiti Allah sebagai Pencipta dan Pengatur masa.

([23] )  Sabda beliau itu menunjukkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan takdir Allah, karena itu wajib bagi seorang muslim untuk beriman dengan qadha dan qadar, yang baik maupun yang buruk, yang manis maupun yang pahit.

([24] )Yakni : Sufyan bin Uyainah.

([25] )  Ayat di atas menunjukkan kewajiban mensyukuri ni’mat Allah dan mengakui bahwa ni’mat tersebut semata mata berasal dari Allah, dan menunjukkan pula bahwa kata kata seseorang terhadap ni’mat Allah yang dikaruniakan kepadanya : “Ini adalah hak yang patut kuterima, karena usahaku” adalah dilarang dan tidak sesuai dengan kesempurnaan tauhid.

([26] )  Maksudnya mereka belum sepakat mengharamkan nama Abdul Mutholib, karena asal nama ini berhubungan dengan perbudakan.

([27] )  Al Harits adalah nama Iblis. Dan maksud Iblis adalah menakut nakuti mereka berdua supaya memberi nama tersebut kepada anaknya ialah untuk mendapatkan suatu macam bentuk syirik, dan inilah salah satu cara Iblis memperdaya musuhnya, kalau dia belum mampu untuk menjerumuskan seseorang manusia ke dalam tindakan maksiat yang besar resikonya, akan di mulai untuk menjerumuskannya terlebih dahulu dari tindakan maksiat yang ringan atau kecil.

([28] )  Maksudnya : mereka tidaklah menyembah Iblis, tetapi mentaati Iblis dengan memberi nama Abdul Harits kepada anak mereka, sebagaimana yang diminta Iblis. Dan perbuatan ini disebut perbuatan syirik kepada Allah.

([29] )  Surat Al A’raf, 189

([30] )  Ayat ini menunjukkan bahwa anak yang dikaruniakan Allah kepada seseorang termasuk ni’mat yang harus disyukuri, dan termasuk kesempurnaan rasa syukur kepadaNya bila diberi nama yang baik, yang tidak diperhambakan kepada selainNya, karena pemberian nama yang diperhambakan kepada selainNya adalah syirik.

([31] )  Abu Muhammad : Sulaiman bin Mahran Al Asdi, digelari Al A’masy. Salah seorang tabi’in ahli tafsir, hadits dan faraidh, dan banyak meriwayatkan hadits . dilahirkan th. 61 H ( 681 M ), dan meninggal th. 147 H ( 765 M ).

([32] )  As Salam : salah satu Asma’ Allah, yang artinya : Maha Pemberi keselamatan. As Salam berarti juga keselamatan, sebagai doa kepada orang yang diberi ucapan selamat. Karena itu tidak boleh dikatakan “As Salamu Alallah”.

([33] )  Ucapan penghormatan yang sesuai untuk Allah yaitu : “At Tahiyyatu lillah, Washshalawatu Wath thoyyibat”.

Komentar ditutup.